Kamis, 15 Januari 2009

KEHAMILAN EKTOPIK

KEHAMILAN EKTOPIK
Posted by : Violita Siska Mutiara, Amd.Keb
A. TINJAUAN PUSTAKA
1) DEFINISI
- Menurut Taber (1994), kehamilan ektopik adalah gestasi diluar kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauterin, karena istilah ini mencakup gestasi pada pars interstisialis tuba, kehamila kornu (gestasi pada kornu uteri yang rudimenter), dan kehamilan servikalis (gestasi dalam kanalis servikalis) dan juga kehamilan abdominal, kehamilan ovarial dan kehamilan tuba.
- Menurut Mansjoer (1999), kehamilan ektopik adalah implanttasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar endometrium kavum uteri.
- Menurut Manuaba (1998), terdapat dua pengertian yang perlu mendapat perhatian, yaitu kehamilan ektopik adalah kehamilan yan berimplantasi diluar endometrium normal dan kehamilan ekstrauterin adalah kehamilan yang berimplantasi diluar uterus. Dengan pengertian ini maka kehamilan pada pars interstitial tuba dan kehamilan pada servikal termasuk kehamilan ekstrauterin, tetapi mempunyai sifat kehamilan ektopik yang sangat berbahaya.
- Menurut Winkjosastro (2002), kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
- Menurut Saifuddin (2000), kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Sedangkan kehamilan ektopik tergangguialah kehamilan ektopik yang mengalami abortus atau rupture apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya : Tuba).




2) ETIOLOGI
- Menurut Manjoer (1999), etiologi kehamilan ektopik antara lain :
a. Faktor Tuba
• Salpingitis.
• Perlekatan Tuba.
• Kelainan Kongenital Tuba.
• Pembedahan sebelumnya.
• Endometriosis.
• Tumor yang mengubah bentuk tuba.
• Kehamilan ektopik sebelumnya.
b. Kelainan Zigot
• Kelainan kromosom.
• Malformasi.
c. Faktor Ovarium
• Migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya).
• Pembesaran Ovarium.
• Unextruded Ovarium.
d. Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral.
e. Faktor lain :
• Aborsi tuba.
• Pemakaian IUD
3) MACAM KEHAMILAN EKTOPIK
- Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :
a) Kehamilan Abdominal
Kehamilan/gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum.
(sinonim : kehamilan intraperitoneal)
b) Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.
c) Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.
d) Kehamilan Heterotopik Kombinasi
Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.
e) Kehamilan Kornu
Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.
f) Kehmailan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.
g) Kehmailan Intraligamenter
Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.
h) Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.
i) Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.
j) Kehamilan Tuba
Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.
4) PATOGENESIS
- Menurut Manuaba (1998), dengan terjadinya implantasi di dalam lumen tuba dapat terjadi beberapa kemungkinan, antara lain :
a) Hasil konsepsi mati dini.
• Tempatnya tidak mungakin memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi mati secara dini.
• Karena kecilnya kemungkinan di resorbsi.
b) Terjadi Abortus.
• Kesempatan berkembang yang sangat kecil menyebabkan hasil konsepsi mati dan lepas dalam lumen.
• Lepasnya hasil kondepsi menimbulkan perdarahan dalam lumen tuba atau keluar lumen serta bentuk timbunan darah.
• Tuba tampak berwarna biru pada saat dilakukan operasi.
c) Tuba fallopii pecah.
• Karena tidak dapat berkembang dengan baik maka tuba dapat pecah.
• Jonjot Villi menembus tuba, sehingga terjadi rupture yang menimbulkan timbunan darah ke dalam ruangan abdomen.
• Rupture tuba menyebabkan hasil konsepsi terlempar keluar dan kemungkinan untuk melakukan implantasi menjadi kehamilan sekunder.
• Kehamilan abdominal dapat mencapai cukup besar.
5) PENANGANAN
- Menurut Taber (1994), penangan kehamilan ektopik antara lain :
A. Kehamilan Tuba
1) Data Subjektif
 Gejala saat ini :
 Nyeri abdomen, terutama nyeri pelvic unilateral maupun bilateral pada abdomen bagian bawah, pada abdomen bagian atas atau seluruh abdomen.
 Perdarahan pervaginam atau bercak-bercak pada rahim.
 Riwayat haid normalyang terakhir kemungkinan yang terjadi 6 sampai 8 minggu sebelum mulai timbulnya nyeri abdomen dan bercak perdarahan pervaginam.
 Sinkope atau perubahan-perubahan ortostatik.
 Nausea, Vomitus dan pembengkakkan payudara.
 Tekanan pada rectum atau suatu urgensi atau defekasi.
 Riwayat penyakit dahulu :
 Pernah mengalami keahmilan ektopik.
 Riwayat kontrasepsi oral atau AKDR.
 Riwayat operasi tuba.
2) Data Objektif
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan umum :
Shock Hipovolemik dan Hipotensi Ortostatik (Postural)
 Pemeriksaan Abdomen :
- Rasa sakit di kuadran bawah unilateral.
- Bising usus menurun.
- Mungkin ditemukan distensi dengan perasaan seperti adonan pada palpasi.
- Sebelum terjadi ruptur, temuan-temuan pada pemeriksaan abdomen biasanya normal.
 Pemeriksaan Pelvis :
- Nyeri unilateral pada pelvis dan rasa sakit yang terlokalisir pada suatu daerah adneksa.
 Tes Laboratorium :
 Pemeriksaan darah lengkap dengan apusan darah.
 Urinalis normal.
 Golongan darah dan rhesus untuk penggantian darah jika ada indikasi.
3) Penilaian
 Diagnosis banding
 Abortus iminens atau abortus inkompletus dari kehamilan intrauterine.
 Inveksi pelvis.
 Korpus luteum persisten dengan perdarahan intra abdominal.
 Kista ovarium dengan torsi atau Torsi Adneksa.
 Apendisitis akut.
4) Rencana
 Data diagnostic tambahan
 Kuldosentesis
Cairan peritoneum di aspirasi dan kavum Douglasi Posterior dengan menusukkan jarum ajang No.16 atau 18 melalui torniks posterior.
 Tes kehamilan untuk HCG.
 Laju endap darah biasanya dalam batas-batas normal.
 Penetapan hematokrit secara serial.
 Ultrasonografi : masa adneksa, cairan dalam kavum douglasi.
 Foto abdomen :Cairan bebas dalam kavum peritoneum.
 Laparoskopi.
 Kuretase Endometrium.
 Kaolpotomi atau Kuldoskopi.
 Penatalaksanaan
 Prinsip kerja umum :
1. Rawat inap segera.
2. Operasi segera setelah diagnostic di tegakkan.
3. Penggantian darah sebagai indikasi Hipovolemia atau anemia.
 Langkah-langkah spesifik :
Tindakan preoperasi.
 Keputusan operasi :
1. Kolpotomi atau Insisi Caparotomi.
2. Mereseksi atau mempertahankan tuba.
3. Reseksi kornu dengan Salpingektomi.
4. Mengangkat atau membiarkan ovarium pada sisi yang terkena.
B. Kehamilan Abdominal
1) Data Subjektif
 Gejala saat ini :
 Nyeri abdomen bagian bawah atau intermitting.
 Jika bayinya hidup, gerakan janin akan dirasakan sangat nyeri.
 Riwayat haid terakhir sesuai umur kehamilan. Kehamilan abdominal aka menjadi simtomatik antara gestasi 12 dan 40 minggu.
 Nausea, vomitus, dan diare merupakan gejala-gejala yang bervariasi.
 Riwayat penyakit dahulu :
 Riwayat spotting.
 Perdarahan irengular.
2) Data Objektif
 Pemeriksaan Umum :
- Seringkali normal.
 Pemeriksaan Abdomen :
 Abdomen lebih sakit daripada normal.
 Bagian-bagian janin dapat teraba sedemikian dekat dengan dinding abdomen.
 DJJ seringkali tidak ada.
 Kontraksi uterus tidak dapat di palpasi.
 Lengkungan uterus tidak ada.
 Pemeriksaan Pelvis :
 Serviks sering berpindah tempat ke anterior dan superior.
 Serviks kaku.
 Uterus mungkin berpindah tempat ke atas dan di identifikasi terpisah dari janin.
3) Penilaian
 Diagnosis banding :
Kehamilan intrauterine.
4) Rencana
 Data diagnostic tambahan :
 Ultrasonografi : kavum uteri kosong.
 Oxitocin Challenge Test.
Adanya kontraksi uterus menyingkirkan diagnosis kehamilan abdominal.
 Foto abdomen.
 Histerogram.
 Angiografi Pelvis.
 Penatalaksanaan :
 Rawat inap.
 Laparotomi Eksplorasi.

C. Kehamilan Servikal
1) Data Subjektif
 Perdarahan pervaginam.
 Demam dan menggigil.
2) Data Objektif
 Pemeriksaan pelvis :
• Serviks mengalami distensi dan berbanding tipis dengan OUE berdilatasi sebagian.
• Fundus uteri sedikit membesar.
3) Penilaian
 Diagnosis banding :
 Abortus iminens.
 Abortus Aseptik.
 Keganasan Servikal.
 Plasenta Previa.
4) Rencana
 Penatalaksanaan :
 Intervensi bedah.
 Kuret.
 Ligasi cabang desensus artei uterine.
 Histerektomi.
D. Kehamilan Ovarial
1) Data Subjektif
 Nyeri abdomen.
 Perdarahan pervaginam.
 Amenore.
2) Data Objektif
 Pemeriksaan abdomen dan pelvis : member kesan perdarahan intra abdominal.
3) Penilaian
 Diagnosis banding :
a. Kehamilan tuba.
b. Perdarahan Korpus Luteum.
c. Tumor Ovarium.
4) Rencana
 Tes HCG.
 Laparoskopi Diagnostik.
 Laparotomi Eksplorasi.
 Pada waktu pembedahan, ooforektomi atau wedge resection sebagian biasanya diperlukan.
6) TINDAKAN BIDAN
 Menurut Manuaba (1998), kehamilan ektopik terganggu merupakan masalah klinis yang memerlukan penanganan spesialis, sehingga rujukan merupakan langkah yang sangat penting. Dengan gambaran klinis kehamilan ektopik terganggu, kiranya bidan dapat menegakkan diagnosis kemungkinan, sehingga sikap yang diambil adalah segera merujuk penderita ke Puskesmas, Dokter atau langsung ke Rumah Sakit.
B. KESIMPULAN
1. ULASAN
 Menurut penyusun, definisi yang lebih tepat untuk di jadikan landasan teori adalah definisi kehamilan ektopik menurut Taber (1994) dilengkapi dengan definisi kehamilan ektopik terganggu (KET) menurut Saifuddin (2000).
 Penyusun memilih etiologi kehamilan ektopik menurut Mansjoer (1999), karena merupakan etiologi yang paling lengkap dan sistematis dibanding sumber pustaka lain.
 Penyusun memilih macam-macam kehamilan ektopik menurut Taber (1994), karena lebih lengkap beserta pengertian masing-masing macamnya disbanding dengan sumber pustaka lain.
 Penyusun memilih pathogenesis menurut Manuaba (1998), karena lebih detail dalam menjelaskan masing-masing petogenesis disbanding sumber pustaka lain.
 Penyusun memilih penanganan menurut Taber (1994), karena dibedakan menurut masing-masing macam kehamilan ektopik dan dijelaskan secara detail temtang data subjektif, objektif, penilaian, rencana dan penatalaksanaan.
 Penyusun memilih tindakan bidan menurut manuaba (1998), karena hanya sumber pustaka ini yang mencantum tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik.
2. KRITIK
 Pada sumber pustaka Ilmu Kebidanan Winkjosastro (2002), tidak ada panduan tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik, hanya ada panduan tindakan untuk dokter. Menurut penyusun sebaiknya dlaam ilmu kebidanan dicantumkan panduan tindakan untuk bidan.
 Untuk sumber pustaka Kapita Selekta Kedokteran data yang ada sangat ringkas, meskipun Kapita Selekta merupakan intisari, menurut penyusun sebaiknya diperlengkap terutama pada bagian definisi dan penatalaksanaan.
 Untuk sumber pustaka lain intinya hanya lebih melengkapi informasi yang ada dan menurut penyusun sebaiknya materi dalam buku disusun sebaiknya materi dalam buku disusun secara lebih sistematis agar lebih mudah untuk di mengerti.
















DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A.1999. Kapita Selekta kedokteran / Ed.3 / Cet.1. Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Saifuddin, A.B.dkk.2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kessehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Taber, B.1994. Kapita Selekta Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.
Winkjosastro, H.dkk.2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tidak ada komentar: