SELEKSI PENERIMAAN TENAGA BIDAN JAWA BARAT TAHUN 2009
Thursday, 19 March 2009 09:33
P E N G U M U M A N
Nomor : 446/3707/RKK
Tentang
SELEKSI PENERIMAAM TENAGA BIDAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2009
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat membuka pendaftaran bagi bidan yang baru menyelesaikan pendidikan atau telah menyelesaikan Masa Bakti sebagai Bidan PTT untuk mengikuti seleksi sebagai Bidan yang akan ditempatkan di sarana pelayanan kesehatan / desa di Provinsi Jawa Barat, sebagai pengganti bidan yang sedang mengikuti pendidikan D3 Kebidanan.
Persyaratan Meliputi :
A. Pesyaratan Umum
1. Warga Negara Republik Indonesia
2. Usia pada bulan Maret 2009 maksimal 35 tahun
3. Pendidikan : D3 Kebidanan
4. Status Perkawinan : Menikah dan tidak menikah
5. Lulus seleksi penerimaan Bidan
6. Bersedia tidak pindah ke tempat lain selama penugasan (2 tahun)
7. Bersedia mengganti biaya rekruitment apabila memenuhi ketentuan yang telah di tetapkan
B. Pesyaratan Administrasi
1. Surat lamaran ditulis diatas kertas bermaterai Rp. 6.000,-
2. Fotocopy Ijazah yang disahkan oleh pejabat yang berwenang (Institusi Pendidikan Lulusan / Poltekkes, Pusdiknakes)
3. Asli Surat Keterangan Sehat dari dokter pemerintah yang mempunyai SIP.
4. Surat pernyataan tidak terikat bekerja dengan instansi lain atau sebagai tenaga honorer.
5. Pas foto berwarna yang terbaru ukuran 4 X 6, 2 Lembar.
6. Fotocopy KTP yang masih berlaku.
7. Fotocopy surat nikah bagi yang telah menikah.
8. Surat izin suami / orang tua.
9. Asli Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari kepolisian.
10. Fotocopy Surat Keterangan Selesai Masa Bakti Bidan (Bagi Bidan Pasca PTT)
11. Fotocopy Surat Izin Bidan (SIB) yang dilegalisir.
12. Kartu Kuning dari Depnaker.
13. Daftar Riwayat Hidup Sesuai SE.BAKN NO. 01/SE/1979
C. Tempat Pendaftaran
Pendaftaran dilaksanakan di BIDANG REGULASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT, MULAI TANGGAL 23 MARET s.d 9 APRIL 2009
Jl. Pasteur No. 25 Telp. (022) 4230353 - 4232292 Bandung
D. Berkas lamaran dan persyaratan dimasukkan kedalam map berwarna BIRU
E. Berkas lamaran yang sudah diserahkan tidak dapat diminta kembali.
KEPALA DINAS KESEHATAN
PROVINSI JAWA BARAT
TTD
Dr. Hj. Alma Lucyati, M.Kes, Msi, MH.Kes
NIP. 140 161 535
Kamis, 11 Juni 2009
Kamis, 15 Januari 2009
Konsultasi gratis
Bagi yang memerlukan konsultasi tentang kesehatan reproduksi, khususnya bidang kebidanan, silahkan kirim comment tentang masalah anda di blog ini, permasalahan anda akan dijawab oleh Violita Siska Mutiara, Amd.Keb.
CARA MENYUSUI YANG BENAR
CARA MENYUSUI YANG BENAR
A. Pendahuluan
Manajemen laktasi adalah upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Manajemen laktasi dilakukan pada masa kehamilan (antenatal), segera setelah persalinan (perinatal) dan pada masa menyusui selanjutnya (postnatal).
1. Periode kehamilan (Antenatal)
Pada periode ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut ;
a. Komunikasi, informasi, edukasi (KIE) tentang kesehatan ibu hamil termasuk perawatan dan pemantauan berat badan (BB)
b. Pemeriksaan dan perawatan payudara untuk persiapan menyusui
c. Senam payudara agar payudara mampu menghasilkan ASI semaksimal mungkin
d. Pengaturan gizi yang optimal bagi ibu hamil
e. Adanya dukungan keluarga untuk menyusui, terutama dari suami
2. Periode segera setelah melahirkan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan pada periode ini adalah :
a. Menyusui Ekslusif: hanya ASI segera kurang lebih 30 menit seteeelah lahir sampai bayi nberumur 6 bulan
b. Menyusui sesering mungkin setiap bayi minta termasuj pada malam hari
c. Tidak memberikan makanan lain
d. Melakukan rawat gabung, 24 jam perhari dirumah bersalin, rumah sakit, dll
e. Memperhatikan tehnik menyusui yang benar
f. Menggunakan kedua payudara secara bergantian setiap kali menyusui
g. Melanjutkan perawatan payudara dan puting susu
3. Periode postnatal
Pada periode ini langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
a. Berkonsultasi ke klinik Laktasi atau kelompok pendukung ASI untuk mengatasi permasahan menyusui
b. Kunjungan rumah dan petugas kesehatan
c. Memberikan bayi makanan pendamping ASI sampai anak berumur 2 tahun
d. Menyapih anak secara bertahap
e. Meneruskan pemberian ASI atau menyusui pada waktu anak sakit/diare
f. Minum dan makan lebih banyak selama menyusui
B. Menyusui Eksklusif
1. Keunggulan ASI
Beberapa keunggulan ASI diantaranya adalah :
a. Mudah dicerna
b. Mengandung zat-zat gizi yang berkualitas tinggi berguna untuk kecerdasan dan pertumbuhan
c. Mengandung zat kekebalan, melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi
d. Selalu aman dan bersih
e. Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat diberikan kapan saja dan dimana saja
f. Mengisapkan ASI membantu pertumbuhan gigi, langit-langit dan rahang bayi secara srempurna
g. Menghindarkan bayi dari alergi dan diare
2. Keuntungan Menyusui
Keuntungan menyusui antara lain :
a. Lebih murah
b. Lebih mudah pemberian
c. Memperat hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya
d. Dapat menjarangkan kehamilan, jika bayi hanya disusui saja selama 6 bulan, tanpa diberikan makanan lain.
e. Menghindarkan ibu dari kemungkinan timbulkan kanker payudara
f. Mencegah obesitas pada bayi
g. Mencegah timbulnya dibetes melitus pada masa bayi/ anak-anak
3. Mengapa bayi sampai 6 bulan bisa diberi ASI
Bayi bisa diberi ASI saja sampai umur 6 bulan karena :
a. Gizi ASI sudah cukup memenuhi kebutuhan bayi
b. Mencegah timbulnya alergi pada anak-anak
c. Kesempatan utama menjalin lkasih sayang antara ibu dan anak
d. Penting untuk dasar perkembangan fisik dan mental anak
e. Pemberian makanan lain dapat mengurangi produksi ASI
f. Menunda kehamilan
Keberhasilan menyusui dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain gizi yang baik, beberapa penyakit tertentu, lingkungan sosial, ekonomi maupun psikologi. Pada saat ini pemerintah mempunyai program penggunaan ASI guna meningkatkan kualitas manusia seutuhnya.
Bayi setelah lahir memerlukan berbagai macam adaptasi, salah satunya adalah kebutuhan nutrisi. Begitu lahir kebutuhan nutrisi bayi akan terpenuhi dengan pemberian ASI. Selain itu sebenarnya pemberian ASI mempunyai banyak manfaat antara lain adalah terbentuknya hubungan yang erat antara bayi dan ibu.
Pemberian ASI untuk pertama kali merupakan pengalaman yang mendalam dan penting bagi ibu dan bayi. Disinilah peran bidan akan sangat penting dalm menunjang keberhasilan proses laktasi.
Tenik menyusui sangat penting dalam hal mempertahankan menyusui dan produksi ASI karena itu ibu harus mempunyai tehnik yang benar.
4. Posisi Menyusui
Pada umumnya ibu menyusui pada posisi duduk, demikian pada keadaan tertentu ibu dapat menyusui dalam posisi tiduran, duduk atau berdiri
5. Memegang Payudara
Pegang payudara kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya payudara kiri dengan tamgan kanan, ibu jari berda diatas puting sedangkan keempat jari yang lain dibawah puting, tangan menjepit puting dengan jari telunjuk dan jari tengah.
6. Mendekatkan Bayi – Posisi Bayi
Posisi bayi pada saat menyusui perlu diperhatikan, yaitu :
a. Badan bayi menghhadap ibu, sehingga kepala dan badan dalam satu garis lurus
b. Badan bayi menempel ibu
c. Mulut bayi terbuka lebar
d. Dagu bayi menepel pada payudara
e. Hidung dekat dengan payudara, lubang hidung jangan sampai tertutup payudara
f. Areola masuk kedalam mulut bayi bukan hanya puting saja.
7. Melepas payudara
Setelah selesai padasatu payudara, lepaskan dengan menggunakan kelingking ibu yang bersih yang dimasukkan kedalam sudut mulut bayi, jari yang lain menekan dagu bayi kebawah atau menutup hidung bayi. Jangan menarik puting untuk melepaskannya.
Setelah selesai melepas, sendawakan bayi dengan cara:
a. Menyandarkan bayi pada pundak ibu lalu ditepuk-tepuk punggungnya pelan-pelan
b. Bayi ditengkurapkan di pankuan ibu sambil digosok-gosok punggungnya.
c. Hal ini dilakukan sampai udara keluar dari dalam lambung.
8. Menyusui Dengan Payudara Lain
Setelah menyusui dengan satu payudara susuilah bayi dari payudara yang lain dengan cara yang sama.
Posisi lain yang dapat dilakukan yaitu :
a. Football position
Digunakan untuk menyusui bayi kembar,atau ibu belum sembut dari operasi caesar
b. Fostur feeding
Digunakan bila ASI keluar terlalu deras, atau bayi yang sering menderita kolik / nyeri perut, lakukan langkah-langkah berikut :
1) Ibu jari pada areola atas
2) Keempat jari pada bagian bawah
3) Kerjakan penekanan sampai pelepasan dalam beberapa menit
4) Rangsang puting supaya ASI keluar banyak
5) Putar sekitar puting untuk menekan keluarnya ASI
A. Pendahuluan
Manajemen laktasi adalah upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Manajemen laktasi dilakukan pada masa kehamilan (antenatal), segera setelah persalinan (perinatal) dan pada masa menyusui selanjutnya (postnatal).
1. Periode kehamilan (Antenatal)
Pada periode ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut ;
a. Komunikasi, informasi, edukasi (KIE) tentang kesehatan ibu hamil termasuk perawatan dan pemantauan berat badan (BB)
b. Pemeriksaan dan perawatan payudara untuk persiapan menyusui
c. Senam payudara agar payudara mampu menghasilkan ASI semaksimal mungkin
d. Pengaturan gizi yang optimal bagi ibu hamil
e. Adanya dukungan keluarga untuk menyusui, terutama dari suami
2. Periode segera setelah melahirkan
Langkah-langkah yang perlu dilakukan pada periode ini adalah :
a. Menyusui Ekslusif: hanya ASI segera kurang lebih 30 menit seteeelah lahir sampai bayi nberumur 6 bulan
b. Menyusui sesering mungkin setiap bayi minta termasuj pada malam hari
c. Tidak memberikan makanan lain
d. Melakukan rawat gabung, 24 jam perhari dirumah bersalin, rumah sakit, dll
e. Memperhatikan tehnik menyusui yang benar
f. Menggunakan kedua payudara secara bergantian setiap kali menyusui
g. Melanjutkan perawatan payudara dan puting susu
3. Periode postnatal
Pada periode ini langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
a. Berkonsultasi ke klinik Laktasi atau kelompok pendukung ASI untuk mengatasi permasahan menyusui
b. Kunjungan rumah dan petugas kesehatan
c. Memberikan bayi makanan pendamping ASI sampai anak berumur 2 tahun
d. Menyapih anak secara bertahap
e. Meneruskan pemberian ASI atau menyusui pada waktu anak sakit/diare
f. Minum dan makan lebih banyak selama menyusui
B. Menyusui Eksklusif
1. Keunggulan ASI
Beberapa keunggulan ASI diantaranya adalah :
a. Mudah dicerna
b. Mengandung zat-zat gizi yang berkualitas tinggi berguna untuk kecerdasan dan pertumbuhan
c. Mengandung zat kekebalan, melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi
d. Selalu aman dan bersih
e. Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat diberikan kapan saja dan dimana saja
f. Mengisapkan ASI membantu pertumbuhan gigi, langit-langit dan rahang bayi secara srempurna
g. Menghindarkan bayi dari alergi dan diare
2. Keuntungan Menyusui
Keuntungan menyusui antara lain :
a. Lebih murah
b. Lebih mudah pemberian
c. Memperat hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya
d. Dapat menjarangkan kehamilan, jika bayi hanya disusui saja selama 6 bulan, tanpa diberikan makanan lain.
e. Menghindarkan ibu dari kemungkinan timbulkan kanker payudara
f. Mencegah obesitas pada bayi
g. Mencegah timbulnya dibetes melitus pada masa bayi/ anak-anak
3. Mengapa bayi sampai 6 bulan bisa diberi ASI
Bayi bisa diberi ASI saja sampai umur 6 bulan karena :
a. Gizi ASI sudah cukup memenuhi kebutuhan bayi
b. Mencegah timbulnya alergi pada anak-anak
c. Kesempatan utama menjalin lkasih sayang antara ibu dan anak
d. Penting untuk dasar perkembangan fisik dan mental anak
e. Pemberian makanan lain dapat mengurangi produksi ASI
f. Menunda kehamilan
Keberhasilan menyusui dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain gizi yang baik, beberapa penyakit tertentu, lingkungan sosial, ekonomi maupun psikologi. Pada saat ini pemerintah mempunyai program penggunaan ASI guna meningkatkan kualitas manusia seutuhnya.
Bayi setelah lahir memerlukan berbagai macam adaptasi, salah satunya adalah kebutuhan nutrisi. Begitu lahir kebutuhan nutrisi bayi akan terpenuhi dengan pemberian ASI. Selain itu sebenarnya pemberian ASI mempunyai banyak manfaat antara lain adalah terbentuknya hubungan yang erat antara bayi dan ibu.
Pemberian ASI untuk pertama kali merupakan pengalaman yang mendalam dan penting bagi ibu dan bayi. Disinilah peran bidan akan sangat penting dalm menunjang keberhasilan proses laktasi.
Tenik menyusui sangat penting dalam hal mempertahankan menyusui dan produksi ASI karena itu ibu harus mempunyai tehnik yang benar.
4. Posisi Menyusui
Pada umumnya ibu menyusui pada posisi duduk, demikian pada keadaan tertentu ibu dapat menyusui dalam posisi tiduran, duduk atau berdiri
5. Memegang Payudara
Pegang payudara kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya payudara kiri dengan tamgan kanan, ibu jari berda diatas puting sedangkan keempat jari yang lain dibawah puting, tangan menjepit puting dengan jari telunjuk dan jari tengah.
6. Mendekatkan Bayi – Posisi Bayi
Posisi bayi pada saat menyusui perlu diperhatikan, yaitu :
a. Badan bayi menghhadap ibu, sehingga kepala dan badan dalam satu garis lurus
b. Badan bayi menempel ibu
c. Mulut bayi terbuka lebar
d. Dagu bayi menepel pada payudara
e. Hidung dekat dengan payudara, lubang hidung jangan sampai tertutup payudara
f. Areola masuk kedalam mulut bayi bukan hanya puting saja.
7. Melepas payudara
Setelah selesai padasatu payudara, lepaskan dengan menggunakan kelingking ibu yang bersih yang dimasukkan kedalam sudut mulut bayi, jari yang lain menekan dagu bayi kebawah atau menutup hidung bayi. Jangan menarik puting untuk melepaskannya.
Setelah selesai melepas, sendawakan bayi dengan cara:
a. Menyandarkan bayi pada pundak ibu lalu ditepuk-tepuk punggungnya pelan-pelan
b. Bayi ditengkurapkan di pankuan ibu sambil digosok-gosok punggungnya.
c. Hal ini dilakukan sampai udara keluar dari dalam lambung.
8. Menyusui Dengan Payudara Lain
Setelah menyusui dengan satu payudara susuilah bayi dari payudara yang lain dengan cara yang sama.
Posisi lain yang dapat dilakukan yaitu :
a. Football position
Digunakan untuk menyusui bayi kembar,atau ibu belum sembut dari operasi caesar
b. Fostur feeding
Digunakan bila ASI keluar terlalu deras, atau bayi yang sering menderita kolik / nyeri perut, lakukan langkah-langkah berikut :
1) Ibu jari pada areola atas
2) Keempat jari pada bagian bawah
3) Kerjakan penekanan sampai pelepasan dalam beberapa menit
4) Rangsang puting supaya ASI keluar banyak
5) Putar sekitar puting untuk menekan keluarnya ASI
FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL
KAJIAN TEORI
FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL
Posted By : Violita Siska Mutiara, Amd.Keb.
A. BEBERAPA DEFINISI
- Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
- Partus immaturus kurang dari 28 minggu lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000-500 gram.
- Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000-2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu-36 minggu.
- Partus postmaturus atau serotinus adalah pertus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan.
- Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil.
- Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
- Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Nulipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kali. Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali.
- Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable, berat janin dibawah 500 gram, atau tua kehamilan dibawah 20 minggu.
- Inpartu adalah seorang wanita yang dalam keadaan persalinan. Partus biasa atau partus normal atau partus spontan adalah bila bayi lahir dengan presentasi belakan kepala memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Partus luar biasa atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan pervaginam dengan cunam, atau ekstraktor vakum, versi dan ekstraksi, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya.
B. SEBAB-SEBAB MULAINYA PERSALINAN
Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks. Faktor-faktor humoral, pengeruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengeruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partus mulai. Perubahan-perubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dan berlangsungnya artus, antara lain penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Seperti diketahui progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus. Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga a term meningkat, lebih-lebih sewaktu partus.
Seperti telah dikemukakan, “plasenta menjadi tua” dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.
Keadaan uterus yang semakin membesar dan menjadi tegang mengakibatkan ikemia otot-otot uterus. Hal ini merupakan faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi. Teori berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hipocrates untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan. Faktor lain yang dikemukakan ialah tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus dapat dibangkitkan.
Uraian tersebut diatas adalah hanya sebagian dari banyak faktor-faktor kompleks sehingga his dapat dibangkitkan.
Selanjutnya dengan berbagai tindakan, persalinan dapat pula dimulai (indiction of labor) misalnya 1) merangsang pleksus Frankenhauser dengan memasukkan beberapa gagang laminaria dalam kanalis servikalis, 2) pemecahan ketuban, 3) penyuntikkan oksitosin (sebaiknya dengan jalan infus intravena), pemakaia prostaglandin, dan sebagainya. Dalam hal mengadakan induksi persalinan perlu diperhatikan bahwa serviks sudah matang (serviks sudah pendek dan lembek), dan kanalis servikalis terbuka untuk satu jari. Untuk menilai serviks dapat juga dipakai Skor Bishop, yaitu bila nilai Bishop lebih dari 8, induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.
C. BERLANGSUNGNYA PERSALINAN NORMAL
Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu diamati-amati, apakah tidak terjadi perdarahan postpartum.
1. KALA SATU PERSALINAN
BATASAN
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.
Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksiuterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.
Tanda dan gejala in partu termasuk :
• Penipisan da pembukaan serviks.
• Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).
• Cairan lendir bercampur darah (“show”) melalui vagina.
FASE-FASE DALAM KALA I PERSALINAN
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). kala I persalinan terdiri dari dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
Fase laten dalam kala I persalinan :
• Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.
• Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
• Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
Fase aktif dalam kala I persalinan :
• Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan terus meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
• Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (mulitpara).
• Terjadi penurunan bagian terbawah janin
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK IBU BERSALIN
Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama merupakan bagian dari asuhan sayang ibu yagn baik dan aman selema persalinan. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukkan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan ole ibu. Sambil melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan adanya tanda-tanda penyulit atau kondisi gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai apabila diperlukan.(lihat tabel 2-1 hal 44) Untuk memastikan proses persalinan akan berlangsung secara aman. Catatkan semua temuan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan lengkap. Jelaskan makna temuan dan kesimpulannya kepada ibu dan keluarganya.
ANAMNESIS
Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan, kehamilan dan persalinan. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik untuk mementukan diagnosis dan yang mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.
Tanyakan pada ibu :
• Nama, umur dan alamat.
• Gravida dan para.
• Hari pertama haid terakhir.
• Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu).
• Riwayat alergi obat-obatan tertentu.
• Riwayat kehamilan yang sekarang :
- Apakah bu pernah melakukan pemeriksaan antenatal? Jika ya, periksa kartu asuhan antenatalnya (jika mungkin).
- Pernahkan ibu mendapat masalah selama kehamilannya (misalnya ; perdarahan, hipertensi, dll)?
- Kapan mulai kontraksi?
- Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering kontraksi terjadi?
- Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi?
- Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah kental atau encer? Kapan saat selaput ketuban pecah? (periksa perineum ibu untuk melihat air ketuban di pakaiannya).
- Apakah keluar cairan bercampur darah dari vagina ibu? Apakah berupa bercak atau darah segar per vaginam? (periksa perineum ibu untuk melihat darah segar atau lendir bercampur darah di pakaiannya).
- Kapan ibu terakhir kali makan atau minum?
- Apakah ibu mengalami kesulitan untuk berkemih?
• Riwayat kehamilan sebelumnya :
- Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebelumnyac(bedah sesar, persalinan dengan ekstraksi vakum atau forceps, induksi oksitosin, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, preeklampsia, perdarahan pascapersalinan)?
- Berapa berat badan bayi yang paling besar pernah ibu lahirkan?
- Apakah ibu mempunyai bayi bermasalah pada kehamilan/persalinan sebelumnya?
• Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung, berkemih dll).
• Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri epigastrium bagian atas). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan protein dalam urin ibu.
• Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran lainnya.
Dokumentasikan semua temuan. Setelah anamnesis lengkap, lakukan pemeriksaan fisik.
PEMERIKSAAN FISIK
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis diramu/diolah untuk membuat keputusan klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau keparawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu.
Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang apa yang akan dilakukan selama pemariksaan dan apa alasannya. Anjurkan mereka untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga mereka memahami kepentingan pemeriksaan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik :
• Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan fisik.
• Tunjukkan sikap ramah dan sopan, tenteramkan hati dan bantu ibu agar merasa nyaman. Minta ibu menarik nafas perlahan dan dalam jika ia merasa tegang dan gelisah.
• Minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya (jika perlu, periksa jumlah urin dan adanya protein dan aseton dalam urin).
• Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu, suasana hatinya, tingkat kesehatan atau nyeri kontraksi, warna konjungtiva, kebersihan, status gizi dan kecukupan cairan tubuh.
• Nilai tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan). Untuk akurasi penilaian tekanan darah dan nadi ibu, lakukan pemeriksaan itu diantara dua kontraksi.
• Lakukan pemeriksaan abdomen.
• Lakukan periksa dalam.
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen digunakan untuk :
1. Menentukan tinggi fundus uteri.
2. Memantau konstruksi uterus.
3. Memantau denyut jantung janin.
4. Menentukan presentasi.
5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin.
Sebelum melakukan pemeriksaan abdomen, pastikan dulu bahwa ibu sudah mengosongkan kandung kemihnya, kemudian minta ibu untuk berbaring. Tempatkan bantal dibawah kepala dan bahunya dan minta ibu untuk menekukkan lututnya. Jika ibu gugup, beri bantuan agar ia memperoleh nyaman dengan meminta ibu untuk menarik nafas dalam berulang kali. Jangan biarkan ibu dalam posisi terlentang dalam waktu lebih dari sepuluh menit.
1. Menentukan tinggi fundus.
Pastikan pengukuran dilakukan pada saat uterus tidak sedang berkontraksi. Ukur tinggi fundus denga menggunakan pita pengukur. Mulai dari tepi atas simfisis pubis kemudian rentangkan pita pengukur hingga ke puncak fundus mengikuti aksis atau linea medialis dinding abdomen(lihat gambar 2.1). lebar pita harus menempel pada dinding abdomen ibu. Jarak antara tepi atas simfisis pubis dan puncak fundus uteri adalah tinggi fundus.
2. Memantau konstruksi uterus.
Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan untuk memantau kontraksi uterus. Secara hati-hati, letakkan tangan penolong diatas uterus dan palpasi jumlah kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi danlama setiap kontraksi yang terjadi. Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam 10 menit dan lama kontraksi adalah 40 detik atau lebih. Diantara dua kontraksi akan terjadi relaksasi dinding uterus.
3. Memantau denyut jantung janin.
Gunakan fetoskop Pinnards atau Dopler untuk mendengar denyut jantung janin (DJJ) dalam rahim ibu dan untuk menghitung jumlah denyut jantung per menit, gunakan jarum detik pada jam dinding atau jam tangan. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen ibu dimana suara DJJ terdengar paling kuat.
Tips : jika DJJ sulit untuk ditemukan, lakukan palpasi abdomen ibu untuk menentukan lokasi punggung bayi. Biasanya rambatan suara DJJ lebih mudah didengar melalui dinding abdomen pada sisi yang sama dengan punggung bayi.
Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus. Mulai penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dari satu kontraksi. Gangguan kondisi kesehatan janin dicerminkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 160 kali per menit. Kegawatan janin ditunjukkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 180 kali per menit. Bila demikian, baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan ibu untuk relaksasi. Nilai kembali DJJ setelah 5 menit dari pemeriksaan sebelumnya, kemudian simpulkan perubahan yang terjadi. Jika DJJ tidak mengalami perbaikan maka siapkan ibu untuk segera dirujuk.
4. Menentukan presentasi.
Untuk menentukan presentasi bayi (apakah presentasi kepala atau bokong) :
• Berdiri disamping dan menghadap ke arah kepala ibu (minta ibu mengangkat tungkai atas dan menekukkan lutut).
• Dengan ibu jari dan jari tengah dari satu tangan (hati-hati dan mantap), pegang bagian terbawah janin yang mengisi bagian bawah abdomen (diatas simfisis pubis) ibu. Bagian yang berada diantara ibu jari dan jari tengah penolong adalah penunjuk presentasi bayi.
• Jika bagian terbawah janin belum masuk ke rongga penggul maka bagian tersebut masih dapat digerakkan. Jika telah memasuki rongga panggul maka bagian terbawah janin sulit atau tidak dapat digerakkan lagi.
• Untuk menentukan apakah presentasinya adalah kepala atau bokong maka perhatikan dan pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan bagian tersebut. Bagian berbentuk bulat, teraba keras, berbatas tegas dan mudah digerakkan (bila belum masuk rongga panggul) biasanya adalah kepala. Jika bentuknya kurang tegas, teraba kenyal, relatif lebih besar dan sulit dipegang secara mantap maka bagian tersebut biasanya adalah bokong. Istilah sungsang digunakan untuk menunjukkan bahwa bagian terbawah adalah kebalikan dari kepala atau diidentikkan sebagai bokong.
5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin.
Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu jika dibandingkan dengan melakukan periksa dalam (vaginal toucher). Selain itu, cara penilaian diatas (bila dilakukan secara benar) dapat memberikan informasi yang sama baiknya dengan hasil periksa dalam tentang kemajuan persalinan (penurunan bagian terbawah janin) dan dapat mencegah periksa dalam yang tidak perlu atau berlebihan.
Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada diatas tep atas simfisis dan dapat diukur dengan lima jari tangan pemeriksa (per limaan). Bagian diatas simfisis adalah proporsi yang belum masuk pintu atas panggul dan sisanya (tidak teraba) menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin telah masuk kedalam rongga panggul.
Penurunan bagian terbawah dengan metode lima jari (perlimaan) adalah :
• 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simfisis pubis.
• 4/5 jika bagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki pintu atas panggul.
• 3/5 jika bagian (2/5) bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul.
• 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada diatas simfisis dan (3/5) bagian telah turun melalui bidang tengah rongga panggul (tidak dapat digerakkan).
• 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada diatas simfisis dab 4/5 bagian telah masuk kedalam rongga pangul.
• 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga panggul.
Merujuk pada kasus primigravida, inpartu kala satu fase aktif dengan kepala janin masih 5/5 (tabel 2-1) dimana kondisi ini patut diwaspadai sebagai kondisi tak lazim.
Alasanya adalah pada kala satu persalinan, kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul. Bila ternyata kepala memang tidak dapat turun, maka bagian terbawah janin (kepala) terlalu besar dibandingkan dengan diameter pintu atas panggul. Mengingat bahwa hal ini patut diduga sebagai disproporsi kepala panggul (CPD) maka sebaiknya ibu dapat melahirkan di fasilitas kesehatan yang mempunyai kemampuan untuk melakukan operasi seksio sesaria sebagai antisipasi apabila terjadi persalinan macet (disproporsi). Penyulit lain dari posisi kepala diatas pintu atas panggul adalah tali pusat menumbung yang disebabkan oleh pecahnya selaput ketuban yang disertai turunnya tali pusat.
PERIKSA DALAM
Sebelum melakukan periksa dalam, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih. Minta ibu untuk berkemih dan mencuci area genitalia (jika ibu belum melakukannya) dengan sabun dan air. Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Tenteramkan hati dan anjurkan ibu untuk rileks. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk :
1. Tutupi badan ibu sebanyak mungkin dengan sarung dan selimut.
2. Minta ibu berbaring terlentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakinya satu sama lain).
3. Gunakan sarung tangan DTT atau steril saat melakukan pemeriksaan.
4. Gunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT/larutan antiseptik. Basuh labia secara hati-hati, seka dari bagian depan ke belakang untuk menghindarkan kontaminasi fses (tinja).
5. Periksa genitalia eksterna, perhatikan apakah ada luka atau massa (benjolan) termasuk kondilomata, varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum.
6. Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada bercak darah, perdarahan per vaginam atau mekonium :
a. Jika ada perdarahan per vaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam.
b. Jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika terlihat pewarnaan mekonium, nilai apakah kental atau ncer dan periksa DJJ:
i. Jika mekonium encer dan DJJ normal, teruskan memantau DJJ dengan seksama menurut petunjuk pada partograf. Jika ada tanda-tanda akan terjadi gawat janin, lakukan rujukan segera.
ii. Jika mekonium kental, nilai DJJ dan rujuk segera.
iii. Jika tercium bau busuk, mungkin telah terjadi infeksi
7. Dengan hati-hati pisahkan labium mayus dengan jari manis dan ibu jari (gunakan sarung tangan periksa). Masukkan (hati-hati) jari telunjuk yang diikuti oleh jari tengah. Jangan mengeluarkan kedua jari tersebut sampai pemeriksaan selesai dilakukan. Jika selaput ketuban belum pecah, jangan melakuka tindakan amniotomi (merobeknya).
Alasannya : amniotomi sebelum waktunya dapat meningkatkan resiko infeksi terhadap ibu dan bayi serta gawat janin.
8. Nilai vagina. Luka parut di vagina mengidikasikan adanya riwayat robekan perineum atau tidakan episiotomi sebelumnya. Hal ini merupakan informasi penting untuk menentukan tindakan pada saat kelahiran bayi.
9. Nilai pembukaan dan penipisan serviks.
10. Pastikan tali pusat dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki) tidak teraba pada saat melakukan periksa dalam. Jika teraba maka ikuti langkah-langkah gawat darurat (lihat tabel 2-1) dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
11. Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut telah masuk ke dalam rongga panggul. Bandingkan tingkat penurunan kepala dari hasil periksa dalam dengan hasil pemeriksaan melalui dinding abdomen (perlimaan) untuk kemajuan persalinan.
12. Jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan penunjuknya (ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar arau fontanela magne) dan celah (sutura) dagitalis untuk menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah ukuran kepala janin sesuai dengan ukuran jalan lahir.
13. Jika pemeriksaan terbawah sudah lengkap, keluarkan kedua jari pemeriksaan (hati-hati), celupkan sarung tangan ke dalam larutan untuk dekontaminasi, lepaskan kedua sarung tangan tadi secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminan selama 10 menit.
14. Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk yang bersih dan kering.
15. Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman.
16. Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarganya.
MENCATAT DAN MENGKAJI HASIL ANAM NESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK.
Ketika anamnesis dan pemeriksaan telah lengkap :
1. Catatkan semua hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara teliti dan lengkap.
2. Gunakan informasi yang ada untuk menentukan apakah ibu sudah inpartu, tahapan dan fase persalinan. Jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm, berarti ibu berada dalam fase laten kala satu persalinan dan perlu penilaian ulang 4 jam kemudian. Jika pembukaan telah mencapai atau lebih dari 4 cm maka ibu berada dalam fase aktif kala satu persalinan sehingga perlu dimulai pemantauan kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf.
3. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus di tatalaksana secara khusus.
4. Setiap kali selesai melakukan penilaian lakukan kajian data yang terkumpul, dan buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaan dan asuhan ibu bersalin. Penatalaksanaan harus didasarkan pada kajian hasil temuan dan diagnosis.
Contoh : jika kajian hasil temuan berujung pada diagnosis berupa ibu dengan kehamilan intrauteri, cukup bulan, kala satu persalinan fase aktif dengan DJJ dan tanda-tanda vital normal, maka rencana selanjutnya adalah terus memantau kondisi ibu serta janin menurut parameter-parameter pada partograf dam meberikan asuhan sayang ibu. Tetapi apabila diagnosis menunjukkan adanya abnormalitas kemajuan persalinan atau komplikasi, maka rencana selanjutnya adalah persiapan untuk segera merujuk ibu dan sementara menunggu dirujuk, dilakukan stabilisasi kondisi ibu dan bayi, memantau progresifitas komplikasi dan memberikan pertolongan secara memadai dan asuhan sayang ibu (lihat kembali materi membuat keputusan klinik di bab I).
5. Jelaskan temuan diagnosis dan rencana penatalaksanaan kepada ibu dan keluarganya sehingga mereka mengerti tentang tujuan asuhan yang akan diberikan.
PENGENALAN DIRI TERHADAP MASALAH DAN PENYULIT
Pada saat memberikan asuhan kepada ibu bersalin, penolong harus selalu waspada terhadap kemungkinan timbulnya masalah atau penyulit. Ingat bahwa menunda pemberian asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan resiko kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir. Selama anamnesis dan pemeriksaan fisik, tetap waspada terhadap indikasi-indikasi seperti yang tertera pada tabel 2-1 dan segera lakukan tindakan yang diperlukan. Langkah dan tindakan yang akan dipilih sebaiknya dapat memberi manfaat dan memastikan bahwa proses persalinan akan berlangsung aman dan lancar sehingga akan berdampak baik terhadap keselamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkan.
2. KALA DUA PERSALINAN
BATASAN
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi.
GEJALA DAN TANDA KALA DUA PERSALINAN
Gejala dan tanda kala dua persalinan adalah :
• Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
• Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan/atau vaginanya.
• Perineum menonjol.
• Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
• Meningkatkan pengeluaran lendir bercampur darah.
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi objektif) yang hasilnya adalah:
• Pembukaan serviks telah lengkap, atau
• Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.
PERSIAPAN PENOLONG PERSALINAN
Salah satu persiapan penting bagi penolong adalah memastikan penerapan fisik dan praktik pencegahan infeksi (PI) yang dianjurkan, termasuk mencuci tangan, memakai sarung tangan dan perlengkapan pelingdung bayi.
SARUNG TANGAN
Sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril harus selalu dipakai selama melakukan periksa dalam, membantu kelahiran bayi, episiotomi, penjahitan laserasi dan asuhan segera bagi bayi bare lahir. Sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril harus menjadi bagian dari perlengkapan untuk menolong persalinan (partus set) dan prosedur penjahitan (suturing atau heckting set). Sarung tangan harus diganti apabila terkontaminasi, robek atau bocor.
PERLENGKAPAN PELINDUNG PRIBADI
Pelindung pribadi merupakan penghalan atau barier antara penolong dengan bahan-bahan yang berpotensi untuk menularkan penyakit. Oleh sebab itu, penolong persalinan harus memakai celemek yang bersih dengan penutup kepala atau ikat rambut pada saat menolong persalinan. Juga gunakan masker penutup mulut dan pelindung mata (kacamata) yang bersih dan nyaman. Kenakan semua perlengkapan pelindung pribadi selama membantu kelahiran bayi dan plasenta serta saat melakukan penjahitan laserasi atau luka episiotomi.
PERSIAPAN TEMPAT PERSALINAN, PERALATAN DAN BAHAN
Penolongpersalinan harus menilai dimana ruangan oroses persalinan akan berlangsung. Ruangan tersebut harus memiliki pencahayaan/penerangan yang cukup (baik melalui jendela, lampu di langit-langit kamar ataupun sumber cahaya lainnya). Ibu dapat menjalani persalinan di tempat tidurdengan kasur yang dilapisi kain penutup yang bersih, kain tebal dan kain pelapis anti bocor (plastik) apabila hanya beralaskan kayu atau kasur yang diletakkan diatas lantai (dilapisi dengan plastik dan kain bersih). Ruangan harus hangat (tetapi jangan panas) dan terhalang dari tiupan angin secara langsung. Selain itu, harus tersedia meja atau pemukaan yang bersih dan mudah dijangkau untuk meletakkan peralatan yang diperlukan.
Pastikan bahwa semua peralengkapan dan bahan-bahan tersedid dan berfungsi denganbai;btermasuk perlengkapan untuk menolong persalinan, menjahit laserasi atau luka episiotomi dan resusitasi bayi bare lahir. Semua perlengkapan dan bahan-bahan dalam set tersebut harus dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Daftar tilik lengkap intuk bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obat esensial yang dibutuhkan untuk persalinan, membantu kelahiran dan asuhan bayi bare lahir ada pada lampiran 6.
PENYIAPAN TEMPAT DAN LINGKUNGAN UNTUK KELAHIRAN BAYI
Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh yang berlebihan pada bayi bare lahir harus dimulai sebelum kelahiran bayi itu sendiri. Siapkan lingkungan yang sesuai bagi proses kelahiran bayi atau bayi bare lahir dengan memastikan bahwa ruangan tersebut bersih, hangat (minimal 250C), pencahayaan cukup, dan bebas dari tiupan angin(matikan kipas angin atau pendingin udara bila sedang terpasang). Bila ibu bermukim di daerah pegunungan atau beriklim dingin, sebaiknya disediakan minimal 2 selimut, kain atau handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan dan menjaga kehangatan tubuh bayi.
PERSIAPAN IBU DAN KELUARGA
Asuhan sayang ibu
• Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua, dan kerabat yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
Alasannya : hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (enkin, et al, 2000).
• Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk berganti posisi, melakukan rangasangan taktil, memberikan makanan dan minuman, teman bicara, dam memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan melahirkan bayinya.
• Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.
• Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani dua kala persalinan. Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika deperlukan.
• Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran (lihat gambar 3-1 sampai 3-3 untuk contoh sebagai posisi meneran).
• Setelah pembukaan lengakp, anjurkan ibu untuk meneran apabila ada dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan napas. Anjurkan ibu untuk beristirahat saat berkontraksi.
Alasan : meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan resiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta (Enkin, et al, 2000).
• Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan.
Alasan : ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya supan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut (Enkin, et al, 2000).
• Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala dua persalinan. Berikan rasa aman dan semangat serta tenteramkan haitnya selama proses ersalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setaip kali penolong akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan (misalnya tekanan darah, denyut jantung janin, pemeriksaan dalam).
MEMBERSIHKAN PERINEUM IBU
Praktik terbaik pencegahan infeksi pada kala dua diantaranya adalah melakukan pembersihan vulva dan perineum menggunakan air matang (DTT). Gunakan gulungan kapas atau kasa yang bersih, bersihkan mulai dari bagian atas ke arah bawah (dari bagian anterior vulva ke arah rektum) untuk mencegah kontaminasi tinja. Letakkan kain bersih di bawah bokong saat ibu mulai meneran. Sediakan kain bersih cadangan didekatnya. Jika keluar tinja saat ibu meneran, jelaskan bahwa hal ibu biasa terjadi. Bersihkan tinja tersebut dengan kain alas bokong atas tangan yang sedang menggunakan sarung tangan. Ganti kain alas bokong dan sarung tangan DTT. Jika tidak ada cukup waktu untuk membersihkan tinja karena bayi akan segera lahir maka sisihkan dan tutupi tinja tersebut dengan kain bersih.
MENGOSONGKAN KANDUNG KEMIH
Anjurkan ibu dapat berkemih setaip 2 jam atau lebi sering jika kandung kemih selalu terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, bantu ibu agar dapat duduk dan berkemih di wadah penampung urin.
Alasan : kandung kemih yang penuh mengganggu penurunan kepala bayi, selain itu juga menambah rasa nyeri pada perut bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi lahirnya plasenta dan perdarahan pasca persalinan.
Jangan melakukan kateterasi kandung kemih secara rutin sebelum atau setelah kelahiran bayi dan/atau plasenta. Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan bila terjadi retensi urin dan ibu tidak mampu berkemih sendiri.
Alasan : selain menyakitkan, kateterisasi akan meningkatkan resiko infeksi dan trauma atau perlukaan pada saluran kemih ibu.
AMNIOTOMI
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka perlu diperlukan tindakan amniotomi. Perhatikan warna air ketuban yang keluarga saat dilakukan amniotomi. Jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka lakukan persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut menunjukkan adanya hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan (lihat lampiran I).
PENATALAKSANAAN FISIOLOGIS KALA DUA
Proses fisiologis kala duapersalinan diartikan sebagai serangkaian peristiwa alamiah yang terjadi sepanjang periode tersebut dan diakhiri dengan lahirnya bayi secara normal (dengan kekuatan ibu sendiri). Gejala dan tanda kala dua juga merupakan mekanisme alamiah bagi ibu dan penolong persalinan bahwa proses pengeluaran bayi sudah di mulai. Setelah terjadinya pembukaan lengkap, beritahukan pada ibu bahwa dorongan alamiahnya yang mengisyaratkan ia untuk meneran dan kemudian beristirahat di antara kontraksi. Ibu dapat memilih posisi yagn nyaman, baik berdiri, berjongkok atau miring yang dapat mempersingkat kala dua. Beri keleluasaan untuk ibu mengeluarkan suara selama persalinan dan kelahiran jika ibu menginginkannya atau dapat mengurangi rasa tidak nyaman yang dialaminya.
Pada masa sebelum ini, sebagian besar penolong akan segera memimpin persalinan dengan menginstruksikan untuk “menarik napas panjang dan meneran” segera setelah terjadi pembukaan lengkap. Ibu dipimpin meneran tanpa henti selama 10 detik atau lebih (“meneran dengan tenggorokan terkatup” atau manuver Valsava), tiga sampai empat kali per kontraksi (Sagady, 1995). Hal ini ternyata akan mengurangi pasokan oksigen ke bayi yang ditandai dengan menurunnya denyut jantung janin (DJJ) dan nilai Apgar yang lebih rendah dari normal (Enkin, et al, 2000). Cara meneran seperti tersebut diatas, tidak termasuk dalam penatalaksanaan fisiologis kala dua. Pada penatalaksanaan fisiologis kala dua, ibu memegang kendali dan mengatur saat meneran. Penolong persalinan hanya memberikan bimbingan tentang cara meneran yang efeksi dan beneran. Harap diingat bahwa sebagian besar daya dorong untuk melahirkan bayi, dilahirkan oleh kontraksi uterus. Meneran hanya menambah daya kontraksi untuk mengeluarakn bayi.
MEMBIMBING IBU UNTUK MENERAN
Bila tanda pasti kala dua telah diperoleh, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran. Teruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi.
Mendiagnosa kala dua persalinan dan mulai meneran :
• Cuci tangan (gunakan sabun bersih dan air bersih yang mengalir).
• Pakai satu sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam.
• Beritahu ibu sat prosedur dan tujuan periksa dalam.
• Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap (10 cm), lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI (Lihat bab 2 : pedoman periksa dalam).
• Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan bu dan bantu ibu mencari posisi nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan di sekitar ruang bersalin. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya (lihat pedoman fase aktif persalinan) dan catat semua temuan pada partograf.
• Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernapas cepat selama kontraksi berlangsung. Bantu ibu untu memeperoleh posisi yang nyaman dan beritahukan untuk menahan diri untuk meneran hingga penolong memberitahukan saat yang tepat untuk itu.
• Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan mengikuti dorongan ilmiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuk membantu dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan pada partograf. Beri cukup minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu daoat beristirahat di antara kontraksi.
• Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan untuk berjalan-jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayi (lihat pedoman fase aktif persalinan) dan catatkan semua temuan pada partograf.
Berikan cukup cairan dan anjurkan/perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit. Stimulasi putting susu mungkin dapat meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi. Jika ibu ingin meneran, lihat petunjuk pada butir tujuh diatas.
• Jika ibu tetap ada dorongan untuk meneransetelah 60 menit pembukaan lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran di setiap puncak kontraksi. Anjurkan ibu mengubah posisinya secara teratur, tawarkan air minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Lakukan stimulasi puting susu untuk memperkuat kontraksi.
• Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-pinggul (CPD).
POSISI IBU SAAT MENERAN
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala dua karena hal ini dapat membantu kemajuan persalainan, mencari posisi meneran yang paling efektif dan menjaga sirkulasi utero-plasenter tetap baik.
Posisi duduk atau setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan memberikan kemudahan baginya untuk beristirahat di antara kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya gravitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.
3. KALA TIGA DAN EMPAT PERSALINAN
BATASAN
Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
Persalinan kala empat dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu.
FISIOLOGI PERSALINAN KALA TIGA
Pada kala tiga persalinan, otot uterus (mionietriuni) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat pelekatan plasenta. Karena tempat pelekatan menjdi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau ke bawah vagina.
Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal di bawah ini :
• Perunahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada di atas pusat (seringkali mengarah kesisi kanan).
• Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
• Semburan darah mendadak dan singkat. Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplacetal pooling) dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas.
Ingat tiga tanda lepasnya plasenta :
1. Perubahan bentuk dan tinggi uterus.
2. Tali pusat memanjang.
3. Semburan darah mendadak dan singkat.
MANAJEMEN AKTIF KALA TIGA
Tujuan manajemen aktif kala tiga adalah menghsailkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Sebagian besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan dimana sebagian disebabkan oleh atonia uteri dan rtensio plasenta yanng sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala tiga.
Penelitian Prevention of pospartum Hemorrhage Intervention-2006 tentang praktik manajemen aktif kala tiga (active Management of Third Stage of Labor/AMTSL) di 20 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 30% rumah sakit melaksanakan hal tersebut. Hal ini sangat berbeda jika di bandingkan dengan praktik manajemen aktif di tingkat pelayanan kesehatan primer (BPS atau Rumah Bersalin) di daerah intervensi APN (Kabupaten Kuningan dan Cirebon) dimana sekitar 70% melaksanakan manajemen aktif kala bagi ibu-ibu bersalin yang ditangani. Jika ingin menyelamatkan banyak ibu bersalin maka sudah sewajarnya jika menajemen aktif kala tiga tidak ingin hanya dilatihkan tetapi juga dipraktikkan dan menjadi standar asuhan persalinan.
Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala tiga :
• Persalinan kala tiga yang lebih singkat.
• Mengurangi jumlah kehilangan darah.
• Mengurangi kejadian retensio plasenta.
Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama :
• Pemberian suntikan oksitosin dalam satu menit pertama setelah bayi lahir.
• Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
• Masase fundus uteri.
PEMBERIAN SUNTIKAN OKSITOSIN
1. Serahkan bayinyang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi ASI.
2. Letakkan kain bersih di atas oerut ibu.
Alasan : kain akan mencegah kontaminasi tangan penolong persalinan yagn sudah memakai sarung tangan dan mencegah kontaminasi oleh arah pada perut ibu.
3. Periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain (Undiagnosed twin).
4. Beri tahu ibu bahwa ia akan disuntik.
5. Segera (dalam satu menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin 10 menit 1M pada 1/3 bagian atas paha bagian luar (aspektus lateralis).
Alasan : oksitosin merangsang fundus uteri untuk berkontraksi dengan kuat dan efektif sehingga dapat membantu pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah. Aspirasi sebelum penyuntikan aka mencegah penyuntikan oksitosin ke pembuluh darah.
Catatan : jika oksitosin tidak tersedia, minta ibu untuk melakukan stimulasi puting susu atau menganjurkan ibu untuk menyusukan dengan segera. Ini akan menyebabkan pelepasan oksitosin secara alamiah. Jika peraturan/program kesehatan memungkinkan, dapat diberikan misoprostol 600 mcg (oral/sublingual) sebagai pengganti oksitosin.
PENEGANGAN TALI PUSAT TERKENDALI
1. Berdiri disamping ibu.
2. Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat saat kala dua) pacta tali pusat sekitar 5-20 cm dari vulva. Alasan : memegang tali pusat lebih dekat ek vulva akan mencegah avulsi.
3. Letakkan tangan yang lain pacta abdomen ibu (beralaskan kain) tepat diatas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menekan uterus pacta saat melakukan penegangan pacta tali pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus ke arab lumbal dan kepala ibu (doso-kranial). Lakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri.
4. Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekitar dua atau tiga menit berselang) untuk mengulangi kembali penegangan tali pusat terkendali.
5. Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur) tegangkan tali pusat ke arah bawah, lakukan tekanan dorso-kranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan.
6. Tetapi jika langkah 5 diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta, jangan lakukan penegangan tali pusat.
a. Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. Jika perlu, pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjang. Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta.
b. Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali pusat terkendali dan tekanan dorso-kranial pada korpus uteri secara serentak. Ikuti langkah-langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.
7. Setelah plasenta terpisahanjurkan ibu untuk meneran agar plasenta terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat denga arah sejajar lantai (mengikuti poros jala lahir).
Alasan : segera lepaskan plasenta yang telah terpisah dari dinding uterus akan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu.
Jangan melakukan penegangan tali pusat tanpa diikuti dengan tekanan dorso-kranial secara serentak pada bagian bawah uterus (di atas simfisis pubis).
8. Pada saat plasenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang plasenta dengan tangan lainnya untuk diletakkan dalam wadah penampung. Karena sela[ut ketuban mudah robek ; pegang plasenta dengan kedua tangan dan secara lembutputar plasenta hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.
9. Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan-lahan untuk melahirkan selaput ketuban. Alasan : melahirkan plasenta dan selapunya dengan hati-hati akan membantu mencegah tertinggalnya selaput ketuban di jalan lahir.
10. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dalam lahir saat melahirkan plasenta, dengan hati-hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Gunakan jari-jari tangan anda atau klem ke dalam DTT atau steril atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba.
Catatan :
Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit oksitosin IM dosis kedua. Periksa kandung kemih. Jika ternyata penuh, gunakan teknik aseptik untuk memasukkan kateter Nelaton disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk mengosongka kandung kemih. Ulangi kembali penegangan tali pusat dan tekanan dorso-kranial seperti yang diuraikan diatas. Nasehati keluarga bahwa rujukan mungkin diperlukan jika plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit. Pada menit ke-30 coba lagi melahirkan plasenta dengan melakukan penegangan tali pusat untuk terakhir kalinya. Jika plasenta tetap tidak lahir, rujuk segera. Ingat, apabila plasenta tidak lahir setelah 30 menit, jangan mencoba untuk melepaskan dan segera lakukan rujukan.
FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL
Posted By : Violita Siska Mutiara, Amd.Keb.
A. BEBERAPA DEFINISI
- Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.
- Partus immaturus kurang dari 28 minggu lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000-500 gram.
- Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000-2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu-36 minggu.
- Partus postmaturus atau serotinus adalah pertus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan.
- Gravida adalah seorang wanita yang sedang hamil.
- Primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
- Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable). Nulipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kali. Multipara atau pleuripara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali.
- Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viable, berat janin dibawah 500 gram, atau tua kehamilan dibawah 20 minggu.
- Inpartu adalah seorang wanita yang dalam keadaan persalinan. Partus biasa atau partus normal atau partus spontan adalah bila bayi lahir dengan presentasi belakan kepala memakai alat-alat atau pertolongan istimewa serta tidak melukai ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam. Partus luar biasa atau partus abnormal ialah bila bayi dilahirkan pervaginam dengan cunam, atau ekstraktor vakum, versi dan ekstraksi, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya.
B. SEBAB-SEBAB MULAINYA PERSALINAN
Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks. Faktor-faktor humoral, pengeruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengeruh saraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partus mulai. Perubahan-perubahan dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dan berlangsungnya artus, antara lain penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Seperti diketahui progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus. Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke 15 hingga a term meningkat, lebih-lebih sewaktu partus.
Seperti telah dikemukakan, “plasenta menjadi tua” dengan tuanya kehamilan. Villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.
Keadaan uterus yang semakin membesar dan menjadi tegang mengakibatkan ikemia otot-otot uterus. Hal ini merupakan faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi. Teori berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan oleh Hipocrates untuk pertama kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan. Faktor lain yang dikemukakan ialah tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus dapat dibangkitkan.
Uraian tersebut diatas adalah hanya sebagian dari banyak faktor-faktor kompleks sehingga his dapat dibangkitkan.
Selanjutnya dengan berbagai tindakan, persalinan dapat pula dimulai (indiction of labor) misalnya 1) merangsang pleksus Frankenhauser dengan memasukkan beberapa gagang laminaria dalam kanalis servikalis, 2) pemecahan ketuban, 3) penyuntikkan oksitosin (sebaiknya dengan jalan infus intravena), pemakaia prostaglandin, dan sebagainya. Dalam hal mengadakan induksi persalinan perlu diperhatikan bahwa serviks sudah matang (serviks sudah pendek dan lembek), dan kanalis servikalis terbuka untuk satu jari. Untuk menilai serviks dapat juga dipakai Skor Bishop, yaitu bila nilai Bishop lebih dari 8, induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.
C. BERLANGSUNGNYA PERSALINAN NORMAL
Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin didorong keluar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Dalam kala itu diamati-amati, apakah tidak terjadi perdarahan postpartum.
1. KALA SATU PERSALINAN
BATASAN
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit.
Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksiuterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.
Tanda dan gejala in partu termasuk :
• Penipisan da pembukaan serviks.
• Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit).
• Cairan lendir bercampur darah (“show”) melalui vagina.
FASE-FASE DALAM KALA I PERSALINAN
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). kala I persalinan terdiri dari dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
Fase laten dalam kala I persalinan :
• Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.
• Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
• Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
Fase aktif dalam kala I persalinan :
• Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan terus meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
• Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (mulitpara).
• Terjadi penurunan bagian terbawah janin
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK IBU BERSALIN
Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama merupakan bagian dari asuhan sayang ibu yagn baik dan aman selema persalinan. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukkan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan ole ibu. Sambil melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan adanya tanda-tanda penyulit atau kondisi gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai apabila diperlukan.(lihat tabel 2-1 hal 44) Untuk memastikan proses persalinan akan berlangsung secara aman. Catatkan semua temuan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan lengkap. Jelaskan makna temuan dan kesimpulannya kepada ibu dan keluarganya.
ANAMNESIS
Tujuan anamnesis adalah mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan, kehamilan dan persalinan. Informasi ini digunakan dalam proses membuat keputusan klinik untuk mementukan diagnosis dan yang mengembangkan rencana asuhan atau perawatan yang sesuai.
Tanyakan pada ibu :
• Nama, umur dan alamat.
• Gravida dan para.
• Hari pertama haid terakhir.
• Kapan bayi akan lahir (menurut taksiran ibu).
• Riwayat alergi obat-obatan tertentu.
• Riwayat kehamilan yang sekarang :
- Apakah bu pernah melakukan pemeriksaan antenatal? Jika ya, periksa kartu asuhan antenatalnya (jika mungkin).
- Pernahkan ibu mendapat masalah selama kehamilannya (misalnya ; perdarahan, hipertensi, dll)?
- Kapan mulai kontraksi?
- Apakah kontraksi teratur? Seberapa sering kontraksi terjadi?
- Apakah ibu masih merasakan gerakan bayi?
- Apakah selaput ketuban sudah pecah? Jika ya, apa warna cairan ketuban? Apakah kental atau encer? Kapan saat selaput ketuban pecah? (periksa perineum ibu untuk melihat air ketuban di pakaiannya).
- Apakah keluar cairan bercampur darah dari vagina ibu? Apakah berupa bercak atau darah segar per vaginam? (periksa perineum ibu untuk melihat darah segar atau lendir bercampur darah di pakaiannya).
- Kapan ibu terakhir kali makan atau minum?
- Apakah ibu mengalami kesulitan untuk berkemih?
• Riwayat kehamilan sebelumnya :
- Apakah ada masalah selama persalinan atau kelahiran sebelumnyac(bedah sesar, persalinan dengan ekstraksi vakum atau forceps, induksi oksitosin, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan, preeklampsia, perdarahan pascapersalinan)?
- Berapa berat badan bayi yang paling besar pernah ibu lahirkan?
- Apakah ibu mempunyai bayi bermasalah pada kehamilan/persalinan sebelumnya?
• Riwayat medis lainnya (masalah pernapasan, hipertensi, gangguan jantung, berkemih dll).
• Masalah medis saat ini (sakit kepala, gangguan penglihatan, pusing atau nyeri epigastrium bagian atas). Jika ada, periksa tekanan darahnya dan protein dalam urin ibu.
• Pertanyaan tentang hal-hal yang belum jelas atau berbagai bentuk kekhawatiran lainnya.
Dokumentasikan semua temuan. Setelah anamnesis lengkap, lakukan pemeriksaan fisik.
PEMERIKSAAN FISIK
Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk menilai kondisi kesehatan ibu dan bayinya serta tingkat kenyamanan fisik ibu bersalin. Informasi dari hasil pemeriksaan fisik dan anamnesis diramu/diolah untuk membuat keputusan klinik, menegakkan diagnosis dan mengembangkan rencana asuhan atau keparawatan yang paling sesuai dengan kondisi ibu.
Jelaskan pada ibu dan keluarganya tentang apa yang akan dilakukan selama pemariksaan dan apa alasannya. Anjurkan mereka untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan sehingga mereka memahami kepentingan pemeriksaan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan fisik :
• Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan fisik.
• Tunjukkan sikap ramah dan sopan, tenteramkan hati dan bantu ibu agar merasa nyaman. Minta ibu menarik nafas perlahan dan dalam jika ia merasa tegang dan gelisah.
• Minta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya (jika perlu, periksa jumlah urin dan adanya protein dan aseton dalam urin).
• Nilai kesehatan dan keadaan umum ibu, suasana hatinya, tingkat kesehatan atau nyeri kontraksi, warna konjungtiva, kebersihan, status gizi dan kecukupan cairan tubuh.
• Nilai tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan). Untuk akurasi penilaian tekanan darah dan nadi ibu, lakukan pemeriksaan itu diantara dua kontraksi.
• Lakukan pemeriksaan abdomen.
• Lakukan periksa dalam.
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen digunakan untuk :
1. Menentukan tinggi fundus uteri.
2. Memantau konstruksi uterus.
3. Memantau denyut jantung janin.
4. Menentukan presentasi.
5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin.
Sebelum melakukan pemeriksaan abdomen, pastikan dulu bahwa ibu sudah mengosongkan kandung kemihnya, kemudian minta ibu untuk berbaring. Tempatkan bantal dibawah kepala dan bahunya dan minta ibu untuk menekukkan lututnya. Jika ibu gugup, beri bantuan agar ia memperoleh nyaman dengan meminta ibu untuk menarik nafas dalam berulang kali. Jangan biarkan ibu dalam posisi terlentang dalam waktu lebih dari sepuluh menit.
1. Menentukan tinggi fundus.
Pastikan pengukuran dilakukan pada saat uterus tidak sedang berkontraksi. Ukur tinggi fundus denga menggunakan pita pengukur. Mulai dari tepi atas simfisis pubis kemudian rentangkan pita pengukur hingga ke puncak fundus mengikuti aksis atau linea medialis dinding abdomen(lihat gambar 2.1). lebar pita harus menempel pada dinding abdomen ibu. Jarak antara tepi atas simfisis pubis dan puncak fundus uteri adalah tinggi fundus.
2. Memantau konstruksi uterus.
Gunakan jarum detik yang ada pada jam dinding atau jam tangan untuk memantau kontraksi uterus. Secara hati-hati, letakkan tangan penolong diatas uterus dan palpasi jumlah kontraksi yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit. Tentukan durasi danlama setiap kontraksi yang terjadi. Pada fase aktif, minimal terjadi dua kontraksi dalam 10 menit dan lama kontraksi adalah 40 detik atau lebih. Diantara dua kontraksi akan terjadi relaksasi dinding uterus.
3. Memantau denyut jantung janin.
Gunakan fetoskop Pinnards atau Dopler untuk mendengar denyut jantung janin (DJJ) dalam rahim ibu dan untuk menghitung jumlah denyut jantung per menit, gunakan jarum detik pada jam dinding atau jam tangan. Tentukan titik tertentu pada dinding abdomen ibu dimana suara DJJ terdengar paling kuat.
Tips : jika DJJ sulit untuk ditemukan, lakukan palpasi abdomen ibu untuk menentukan lokasi punggung bayi. Biasanya rambatan suara DJJ lebih mudah didengar melalui dinding abdomen pada sisi yang sama dengan punggung bayi.
Nilai DJJ selama dan segera setelah kontraksi uterus. Mulai penilaian sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Lakukan penilaian DJJ tersebut pada lebih dari satu kontraksi. Gangguan kondisi kesehatan janin dicerminkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 160 kali per menit. Kegawatan janin ditunjukkan dari DJJ yang kurang dari 120 atau lebih dari 180 kali per menit. Bila demikian, baringkan ibu ke sisi kiri dan anjurkan ibu untuk relaksasi. Nilai kembali DJJ setelah 5 menit dari pemeriksaan sebelumnya, kemudian simpulkan perubahan yang terjadi. Jika DJJ tidak mengalami perbaikan maka siapkan ibu untuk segera dirujuk.
4. Menentukan presentasi.
Untuk menentukan presentasi bayi (apakah presentasi kepala atau bokong) :
• Berdiri disamping dan menghadap ke arah kepala ibu (minta ibu mengangkat tungkai atas dan menekukkan lutut).
• Dengan ibu jari dan jari tengah dari satu tangan (hati-hati dan mantap), pegang bagian terbawah janin yang mengisi bagian bawah abdomen (diatas simfisis pubis) ibu. Bagian yang berada diantara ibu jari dan jari tengah penolong adalah penunjuk presentasi bayi.
• Jika bagian terbawah janin belum masuk ke rongga penggul maka bagian tersebut masih dapat digerakkan. Jika telah memasuki rongga panggul maka bagian terbawah janin sulit atau tidak dapat digerakkan lagi.
• Untuk menentukan apakah presentasinya adalah kepala atau bokong maka perhatikan dan pertimbangkan bentuk, ukuran dan kepadatan bagian tersebut. Bagian berbentuk bulat, teraba keras, berbatas tegas dan mudah digerakkan (bila belum masuk rongga panggul) biasanya adalah kepala. Jika bentuknya kurang tegas, teraba kenyal, relatif lebih besar dan sulit dipegang secara mantap maka bagian tersebut biasanya adalah bokong. Istilah sungsang digunakan untuk menunjukkan bahwa bagian terbawah adalah kebalikan dari kepala atau diidentikkan sebagai bokong.
5. Menentukan penurunan bagian terbawah janin.
Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu jika dibandingkan dengan melakukan periksa dalam (vaginal toucher). Selain itu, cara penilaian diatas (bila dilakukan secara benar) dapat memberikan informasi yang sama baiknya dengan hasil periksa dalam tentang kemajuan persalinan (penurunan bagian terbawah janin) dan dapat mencegah periksa dalam yang tidak perlu atau berlebihan.
Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada diatas tep atas simfisis dan dapat diukur dengan lima jari tangan pemeriksa (per limaan). Bagian diatas simfisis adalah proporsi yang belum masuk pintu atas panggul dan sisanya (tidak teraba) menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin telah masuk kedalam rongga panggul.
Penurunan bagian terbawah dengan metode lima jari (perlimaan) adalah :
• 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simfisis pubis.
• 4/5 jika bagian (1/5) bagian terbawah janin telah memasuki pintu atas panggul.
• 3/5 jika bagian (2/5) bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul.
• 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada diatas simfisis dan (3/5) bagian telah turun melalui bidang tengah rongga panggul (tidak dapat digerakkan).
• 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada diatas simfisis dab 4/5 bagian telah masuk kedalam rongga pangul.
• 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah masuk ke dalam rongga panggul.
Merujuk pada kasus primigravida, inpartu kala satu fase aktif dengan kepala janin masih 5/5 (tabel 2-1) dimana kondisi ini patut diwaspadai sebagai kondisi tak lazim.
Alasanya adalah pada kala satu persalinan, kepala sudah masuk ke dalam rongga panggul. Bila ternyata kepala memang tidak dapat turun, maka bagian terbawah janin (kepala) terlalu besar dibandingkan dengan diameter pintu atas panggul. Mengingat bahwa hal ini patut diduga sebagai disproporsi kepala panggul (CPD) maka sebaiknya ibu dapat melahirkan di fasilitas kesehatan yang mempunyai kemampuan untuk melakukan operasi seksio sesaria sebagai antisipasi apabila terjadi persalinan macet (disproporsi). Penyulit lain dari posisi kepala diatas pintu atas panggul adalah tali pusat menumbung yang disebabkan oleh pecahnya selaput ketuban yang disertai turunnya tali pusat.
PERIKSA DALAM
Sebelum melakukan periksa dalam, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, kemudian keringkan dengan handuk kering dan bersih. Minta ibu untuk berkemih dan mencuci area genitalia (jika ibu belum melakukannya) dengan sabun dan air. Jelaskan pada ibu setiap langkah yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Tenteramkan hati dan anjurkan ibu untuk rileks. Pastikan privasi ibu terjaga selama pemeriksaan dilakukan.
Langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dalam termasuk :
1. Tutupi badan ibu sebanyak mungkin dengan sarung dan selimut.
2. Minta ibu berbaring terlentang dengan lutut ditekuk dan paha dibentangkan (mungkin akan membantu jika ibu menempelkan kedua telapak kakinya satu sama lain).
3. Gunakan sarung tangan DTT atau steril saat melakukan pemeriksaan.
4. Gunakan kasa atau gulungan kapas DTT yang dicelupkan ke air DTT/larutan antiseptik. Basuh labia secara hati-hati, seka dari bagian depan ke belakang untuk menghindarkan kontaminasi fses (tinja).
5. Periksa genitalia eksterna, perhatikan apakah ada luka atau massa (benjolan) termasuk kondilomata, varikositas vulva atau rektum, atau luka parut di perineum.
6. Nilai cairan vagina dan tentukan apakah ada bercak darah, perdarahan per vaginam atau mekonium :
a. Jika ada perdarahan per vaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam.
b. Jika ketuban sudah pecah, lihat warna dan bau air ketuban. Jika terlihat pewarnaan mekonium, nilai apakah kental atau ncer dan periksa DJJ:
i. Jika mekonium encer dan DJJ normal, teruskan memantau DJJ dengan seksama menurut petunjuk pada partograf. Jika ada tanda-tanda akan terjadi gawat janin, lakukan rujukan segera.
ii. Jika mekonium kental, nilai DJJ dan rujuk segera.
iii. Jika tercium bau busuk, mungkin telah terjadi infeksi
7. Dengan hati-hati pisahkan labium mayus dengan jari manis dan ibu jari (gunakan sarung tangan periksa). Masukkan (hati-hati) jari telunjuk yang diikuti oleh jari tengah. Jangan mengeluarkan kedua jari tersebut sampai pemeriksaan selesai dilakukan. Jika selaput ketuban belum pecah, jangan melakuka tindakan amniotomi (merobeknya).
Alasannya : amniotomi sebelum waktunya dapat meningkatkan resiko infeksi terhadap ibu dan bayi serta gawat janin.
8. Nilai vagina. Luka parut di vagina mengidikasikan adanya riwayat robekan perineum atau tidakan episiotomi sebelumnya. Hal ini merupakan informasi penting untuk menentukan tindakan pada saat kelahiran bayi.
9. Nilai pembukaan dan penipisan serviks.
10. Pastikan tali pusat dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki) tidak teraba pada saat melakukan periksa dalam. Jika teraba maka ikuti langkah-langkah gawat darurat (lihat tabel 2-1) dan segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang sesuai.
11. Nilai penurunan bagian terbawah janin dan tentukan apakah bagian tersebut telah masuk ke dalam rongga panggul. Bandingkan tingkat penurunan kepala dari hasil periksa dalam dengan hasil pemeriksaan melalui dinding abdomen (perlimaan) untuk kemajuan persalinan.
12. Jika bagian terbawah adalah kepala, pastikan penunjuknya (ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar arau fontanela magne) dan celah (sutura) dagitalis untuk menilai derajat penyusupan atau tumpang tindih tulang kepala dan apakah ukuran kepala janin sesuai dengan ukuran jalan lahir.
13. Jika pemeriksaan terbawah sudah lengkap, keluarkan kedua jari pemeriksaan (hati-hati), celupkan sarung tangan ke dalam larutan untuk dekontaminasi, lepaskan kedua sarung tangan tadi secara terbalik dan rendam dalam larutan dekontaminan selama 10 menit.
14. Cuci kedua tangan dan segera keringkan dengan handuk yang bersih dan kering.
15. Bantu ibu untuk mengambil posisi yang lebih nyaman.
16. Jelaskan hasil-hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarganya.
MENCATAT DAN MENGKAJI HASIL ANAM NESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK.
Ketika anamnesis dan pemeriksaan telah lengkap :
1. Catatkan semua hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara teliti dan lengkap.
2. Gunakan informasi yang ada untuk menentukan apakah ibu sudah inpartu, tahapan dan fase persalinan. Jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm, berarti ibu berada dalam fase laten kala satu persalinan dan perlu penilaian ulang 4 jam kemudian. Jika pembukaan telah mencapai atau lebih dari 4 cm maka ibu berada dalam fase aktif kala satu persalinan sehingga perlu dimulai pemantauan kemajuan persalinan dengan menggunakan partograf.
3. Tentukan ada tidaknya masalah atau penyulit yang harus di tatalaksana secara khusus.
4. Setiap kali selesai melakukan penilaian lakukan kajian data yang terkumpul, dan buat diagnosis berdasarkan informasi tersebut. Susun rencana penatalaksanaan dan asuhan ibu bersalin. Penatalaksanaan harus didasarkan pada kajian hasil temuan dan diagnosis.
Contoh : jika kajian hasil temuan berujung pada diagnosis berupa ibu dengan kehamilan intrauteri, cukup bulan, kala satu persalinan fase aktif dengan DJJ dan tanda-tanda vital normal, maka rencana selanjutnya adalah terus memantau kondisi ibu serta janin menurut parameter-parameter pada partograf dam meberikan asuhan sayang ibu. Tetapi apabila diagnosis menunjukkan adanya abnormalitas kemajuan persalinan atau komplikasi, maka rencana selanjutnya adalah persiapan untuk segera merujuk ibu dan sementara menunggu dirujuk, dilakukan stabilisasi kondisi ibu dan bayi, memantau progresifitas komplikasi dan memberikan pertolongan secara memadai dan asuhan sayang ibu (lihat kembali materi membuat keputusan klinik di bab I).
5. Jelaskan temuan diagnosis dan rencana penatalaksanaan kepada ibu dan keluarganya sehingga mereka mengerti tentang tujuan asuhan yang akan diberikan.
PENGENALAN DIRI TERHADAP MASALAH DAN PENYULIT
Pada saat memberikan asuhan kepada ibu bersalin, penolong harus selalu waspada terhadap kemungkinan timbulnya masalah atau penyulit. Ingat bahwa menunda pemberian asuhan kegawatdaruratan akan meningkatkan resiko kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir. Selama anamnesis dan pemeriksaan fisik, tetap waspada terhadap indikasi-indikasi seperti yang tertera pada tabel 2-1 dan segera lakukan tindakan yang diperlukan. Langkah dan tindakan yang akan dipilih sebaiknya dapat memberi manfaat dan memastikan bahwa proses persalinan akan berlangsung aman dan lancar sehingga akan berdampak baik terhadap keselamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkan.
2. KALA DUA PERSALINAN
BATASAN
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi.
GEJALA DAN TANDA KALA DUA PERSALINAN
Gejala dan tanda kala dua persalinan adalah :
• Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
• Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan/atau vaginanya.
• Perineum menonjol.
• Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
• Meningkatkan pengeluaran lendir bercampur darah.
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi objektif) yang hasilnya adalah:
• Pembukaan serviks telah lengkap, atau
• Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.
PERSIAPAN PENOLONG PERSALINAN
Salah satu persiapan penting bagi penolong adalah memastikan penerapan fisik dan praktik pencegahan infeksi (PI) yang dianjurkan, termasuk mencuci tangan, memakai sarung tangan dan perlengkapan pelingdung bayi.
SARUNG TANGAN
Sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril harus selalu dipakai selama melakukan periksa dalam, membantu kelahiran bayi, episiotomi, penjahitan laserasi dan asuhan segera bagi bayi bare lahir. Sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril harus menjadi bagian dari perlengkapan untuk menolong persalinan (partus set) dan prosedur penjahitan (suturing atau heckting set). Sarung tangan harus diganti apabila terkontaminasi, robek atau bocor.
PERLENGKAPAN PELINDUNG PRIBADI
Pelindung pribadi merupakan penghalan atau barier antara penolong dengan bahan-bahan yang berpotensi untuk menularkan penyakit. Oleh sebab itu, penolong persalinan harus memakai celemek yang bersih dengan penutup kepala atau ikat rambut pada saat menolong persalinan. Juga gunakan masker penutup mulut dan pelindung mata (kacamata) yang bersih dan nyaman. Kenakan semua perlengkapan pelindung pribadi selama membantu kelahiran bayi dan plasenta serta saat melakukan penjahitan laserasi atau luka episiotomi.
PERSIAPAN TEMPAT PERSALINAN, PERALATAN DAN BAHAN
Penolongpersalinan harus menilai dimana ruangan oroses persalinan akan berlangsung. Ruangan tersebut harus memiliki pencahayaan/penerangan yang cukup (baik melalui jendela, lampu di langit-langit kamar ataupun sumber cahaya lainnya). Ibu dapat menjalani persalinan di tempat tidurdengan kasur yang dilapisi kain penutup yang bersih, kain tebal dan kain pelapis anti bocor (plastik) apabila hanya beralaskan kayu atau kasur yang diletakkan diatas lantai (dilapisi dengan plastik dan kain bersih). Ruangan harus hangat (tetapi jangan panas) dan terhalang dari tiupan angin secara langsung. Selain itu, harus tersedia meja atau pemukaan yang bersih dan mudah dijangkau untuk meletakkan peralatan yang diperlukan.
Pastikan bahwa semua peralengkapan dan bahan-bahan tersedid dan berfungsi denganbai;btermasuk perlengkapan untuk menolong persalinan, menjahit laserasi atau luka episiotomi dan resusitasi bayi bare lahir. Semua perlengkapan dan bahan-bahan dalam set tersebut harus dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Daftar tilik lengkap intuk bahan-bahan, perlengkapan dan obat-obat esensial yang dibutuhkan untuk persalinan, membantu kelahiran dan asuhan bayi bare lahir ada pada lampiran 6.
PENYIAPAN TEMPAT DAN LINGKUNGAN UNTUK KELAHIRAN BAYI
Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh yang berlebihan pada bayi bare lahir harus dimulai sebelum kelahiran bayi itu sendiri. Siapkan lingkungan yang sesuai bagi proses kelahiran bayi atau bayi bare lahir dengan memastikan bahwa ruangan tersebut bersih, hangat (minimal 250C), pencahayaan cukup, dan bebas dari tiupan angin(matikan kipas angin atau pendingin udara bila sedang terpasang). Bila ibu bermukim di daerah pegunungan atau beriklim dingin, sebaiknya disediakan minimal 2 selimut, kain atau handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan dan menjaga kehangatan tubuh bayi.
PERSIAPAN IBU DAN KELUARGA
Asuhan sayang ibu
• Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua, dan kerabat yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
Alasannya : hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (enkin, et al, 2000).
• Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk berganti posisi, melakukan rangasangan taktil, memberikan makanan dan minuman, teman bicara, dam memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan melahirkan bayinya.
• Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.
• Tenteramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani dua kala persalinan. Lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika deperlukan.
• Bantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman saat meneran (lihat gambar 3-1 sampai 3-3 untuk contoh sebagai posisi meneran).
• Setelah pembukaan lengakp, anjurkan ibu untuk meneran apabila ada dorongan kuat dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan dan menahan napas. Anjurkan ibu untuk beristirahat saat berkontraksi.
Alasan : meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernapas sehingga terjadi kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan resiko asfiksia pada bayi sebagai akibat turunnya pasokan oksigen melalui plasenta (Enkin, et al, 2000).
• Anjurkan ibu untuk minum selama kala dua persalinan.
Alasan : ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Cukupnya supan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal tersebut (Enkin, et al, 2000).
• Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala dua persalinan. Berikan rasa aman dan semangat serta tenteramkan haitnya selama proses ersalinan berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayi. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setaip kali penolong akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan (misalnya tekanan darah, denyut jantung janin, pemeriksaan dalam).
MEMBERSIHKAN PERINEUM IBU
Praktik terbaik pencegahan infeksi pada kala dua diantaranya adalah melakukan pembersihan vulva dan perineum menggunakan air matang (DTT). Gunakan gulungan kapas atau kasa yang bersih, bersihkan mulai dari bagian atas ke arah bawah (dari bagian anterior vulva ke arah rektum) untuk mencegah kontaminasi tinja. Letakkan kain bersih di bawah bokong saat ibu mulai meneran. Sediakan kain bersih cadangan didekatnya. Jika keluar tinja saat ibu meneran, jelaskan bahwa hal ibu biasa terjadi. Bersihkan tinja tersebut dengan kain alas bokong atas tangan yang sedang menggunakan sarung tangan. Ganti kain alas bokong dan sarung tangan DTT. Jika tidak ada cukup waktu untuk membersihkan tinja karena bayi akan segera lahir maka sisihkan dan tutupi tinja tersebut dengan kain bersih.
MENGOSONGKAN KANDUNG KEMIH
Anjurkan ibu dapat berkemih setaip 2 jam atau lebi sering jika kandung kemih selalu terasa penuh. Jika diperlukan, bantu ibu untuk ke kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, bantu ibu agar dapat duduk dan berkemih di wadah penampung urin.
Alasan : kandung kemih yang penuh mengganggu penurunan kepala bayi, selain itu juga menambah rasa nyeri pada perut bawah, menghambat penatalaksanaan distosia bahu, menghalangi lahirnya plasenta dan perdarahan pasca persalinan.
Jangan melakukan kateterasi kandung kemih secara rutin sebelum atau setelah kelahiran bayi dan/atau plasenta. Kateterisasi kandung kemih hanya dilakukan bila terjadi retensi urin dan ibu tidak mampu berkemih sendiri.
Alasan : selain menyakitkan, kateterisasi akan meningkatkan resiko infeksi dan trauma atau perlukaan pada saluran kemih ibu.
AMNIOTOMI
Apabila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka perlu diperlukan tindakan amniotomi. Perhatikan warna air ketuban yang keluarga saat dilakukan amniotomi. Jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka lakukan persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut menunjukkan adanya hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan (lihat lampiran I).
PENATALAKSANAAN FISIOLOGIS KALA DUA
Proses fisiologis kala duapersalinan diartikan sebagai serangkaian peristiwa alamiah yang terjadi sepanjang periode tersebut dan diakhiri dengan lahirnya bayi secara normal (dengan kekuatan ibu sendiri). Gejala dan tanda kala dua juga merupakan mekanisme alamiah bagi ibu dan penolong persalinan bahwa proses pengeluaran bayi sudah di mulai. Setelah terjadinya pembukaan lengkap, beritahukan pada ibu bahwa dorongan alamiahnya yang mengisyaratkan ia untuk meneran dan kemudian beristirahat di antara kontraksi. Ibu dapat memilih posisi yagn nyaman, baik berdiri, berjongkok atau miring yang dapat mempersingkat kala dua. Beri keleluasaan untuk ibu mengeluarkan suara selama persalinan dan kelahiran jika ibu menginginkannya atau dapat mengurangi rasa tidak nyaman yang dialaminya.
Pada masa sebelum ini, sebagian besar penolong akan segera memimpin persalinan dengan menginstruksikan untuk “menarik napas panjang dan meneran” segera setelah terjadi pembukaan lengkap. Ibu dipimpin meneran tanpa henti selama 10 detik atau lebih (“meneran dengan tenggorokan terkatup” atau manuver Valsava), tiga sampai empat kali per kontraksi (Sagady, 1995). Hal ini ternyata akan mengurangi pasokan oksigen ke bayi yang ditandai dengan menurunnya denyut jantung janin (DJJ) dan nilai Apgar yang lebih rendah dari normal (Enkin, et al, 2000). Cara meneran seperti tersebut diatas, tidak termasuk dalam penatalaksanaan fisiologis kala dua. Pada penatalaksanaan fisiologis kala dua, ibu memegang kendali dan mengatur saat meneran. Penolong persalinan hanya memberikan bimbingan tentang cara meneran yang efeksi dan beneran. Harap diingat bahwa sebagian besar daya dorong untuk melahirkan bayi, dilahirkan oleh kontraksi uterus. Meneran hanya menambah daya kontraksi untuk mengeluarakn bayi.
MEMBIMBING IBU UNTUK MENERAN
Bila tanda pasti kala dua telah diperoleh, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan spontan untuk meneran. Teruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi.
Mendiagnosa kala dua persalinan dan mulai meneran :
• Cuci tangan (gunakan sabun bersih dan air bersih yang mengalir).
• Pakai satu sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam.
• Beritahu ibu sat prosedur dan tujuan periksa dalam.
• Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap (10 cm), lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI (Lihat bab 2 : pedoman periksa dalam).
• Jika pembukaan belum lengkap, tenteramkan bu dan bantu ibu mencari posisi nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan di sekitar ruang bersalin. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya (lihat pedoman fase aktif persalinan) dan catat semua temuan pada partograf.
• Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernapas cepat selama kontraksi berlangsung. Bantu ibu untu memeperoleh posisi yang nyaman dan beritahukan untuk menahan diri untuk meneran hingga penolong memberitahukan saat yang tepat untuk itu.
• Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan mengikuti dorongan ilmiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuk membantu dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan pada partograf. Beri cukup minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu daoat beristirahat di antara kontraksi.
• Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan untuk berjalan-jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernapas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayi (lihat pedoman fase aktif persalinan) dan catatkan semua temuan pada partograf.
Berikan cukup cairan dan anjurkan/perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit. Stimulasi putting susu mungkin dapat meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi. Jika ibu ingin meneran, lihat petunjuk pada butir tujuh diatas.
• Jika ibu tetap ada dorongan untuk meneransetelah 60 menit pembukaan lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran di setiap puncak kontraksi. Anjurkan ibu mengubah posisinya secara teratur, tawarkan air minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Lakukan stimulasi puting susu untuk memperkuat kontraksi.
• Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-pinggul (CPD).
POSISI IBU SAAT MENERAN
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala dua karena hal ini dapat membantu kemajuan persalainan, mencari posisi meneran yang paling efektif dan menjaga sirkulasi utero-plasenter tetap baik.
Posisi duduk atau setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan memberikan kemudahan baginya untuk beristirahat di antara kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya gravitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.
3. KALA TIGA DAN EMPAT PERSALINAN
BATASAN
Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
Persalinan kala empat dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu.
FISIOLOGI PERSALINAN KALA TIGA
Pada kala tiga persalinan, otot uterus (mionietriuni) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat pelekatan plasenta. Karena tempat pelekatan menjdi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau ke bawah vagina.
Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal di bawah ini :
• Perunahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada di atas pusat (seringkali mengarah kesisi kanan).
• Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda Ahfeld).
• Semburan darah mendadak dan singkat. Darah yang terkumpul dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplacetal pooling) dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas.
Ingat tiga tanda lepasnya plasenta :
1. Perubahan bentuk dan tinggi uterus.
2. Tali pusat memanjang.
3. Semburan darah mendadak dan singkat.
MANAJEMEN AKTIF KALA TIGA
Tujuan manajemen aktif kala tiga adalah menghsailkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Sebagian besar kasus kesakitan dan kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan dimana sebagian disebabkan oleh atonia uteri dan rtensio plasenta yanng sebenarnya dapat dicegah dengan melakukan manajemen aktif kala tiga.
Penelitian Prevention of pospartum Hemorrhage Intervention-2006 tentang praktik manajemen aktif kala tiga (active Management of Third Stage of Labor/AMTSL) di 20 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 30% rumah sakit melaksanakan hal tersebut. Hal ini sangat berbeda jika di bandingkan dengan praktik manajemen aktif di tingkat pelayanan kesehatan primer (BPS atau Rumah Bersalin) di daerah intervensi APN (Kabupaten Kuningan dan Cirebon) dimana sekitar 70% melaksanakan manajemen aktif kala bagi ibu-ibu bersalin yang ditangani. Jika ingin menyelamatkan banyak ibu bersalin maka sudah sewajarnya jika menajemen aktif kala tiga tidak ingin hanya dilatihkan tetapi juga dipraktikkan dan menjadi standar asuhan persalinan.
Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala tiga :
• Persalinan kala tiga yang lebih singkat.
• Mengurangi jumlah kehilangan darah.
• Mengurangi kejadian retensio plasenta.
Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama :
• Pemberian suntikan oksitosin dalam satu menit pertama setelah bayi lahir.
• Melakukan penegangan tali pusat terkendali.
• Masase fundus uteri.
PEMBERIAN SUNTIKAN OKSITOSIN
1. Serahkan bayinyang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi ASI.
2. Letakkan kain bersih di atas oerut ibu.
Alasan : kain akan mencegah kontaminasi tangan penolong persalinan yagn sudah memakai sarung tangan dan mencegah kontaminasi oleh arah pada perut ibu.
3. Periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain (Undiagnosed twin).
4. Beri tahu ibu bahwa ia akan disuntik.
5. Segera (dalam satu menit pertama setelah bayi lahir) suntikkan oksitosin 10 menit 1M pada 1/3 bagian atas paha bagian luar (aspektus lateralis).
Alasan : oksitosin merangsang fundus uteri untuk berkontraksi dengan kuat dan efektif sehingga dapat membantu pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah. Aspirasi sebelum penyuntikan aka mencegah penyuntikan oksitosin ke pembuluh darah.
Catatan : jika oksitosin tidak tersedia, minta ibu untuk melakukan stimulasi puting susu atau menganjurkan ibu untuk menyusukan dengan segera. Ini akan menyebabkan pelepasan oksitosin secara alamiah. Jika peraturan/program kesehatan memungkinkan, dapat diberikan misoprostol 600 mcg (oral/sublingual) sebagai pengganti oksitosin.
PENEGANGAN TALI PUSAT TERKENDALI
1. Berdiri disamping ibu.
2. Pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat saat kala dua) pacta tali pusat sekitar 5-20 cm dari vulva. Alasan : memegang tali pusat lebih dekat ek vulva akan mencegah avulsi.
3. Letakkan tangan yang lain pacta abdomen ibu (beralaskan kain) tepat diatas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan menekan uterus pacta saat melakukan penegangan pacta tali pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus ke arab lumbal dan kepala ibu (doso-kranial). Lakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri.
4. Bila plasenta belum lepas, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekitar dua atau tiga menit berselang) untuk mengulangi kembali penegangan tali pusat terkendali.
5. Saat mulai kontraksi (uterus menjadi bulat atau tali pusat menjulur) tegangkan tali pusat ke arah bawah, lakukan tekanan dorso-kranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan plasenta telah lepas dan dapat dilahirkan.
6. Tetapi jika langkah 5 diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan plasenta tidak turun setelah 30-40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan lepasnya plasenta, jangan lakukan penegangan tali pusat.
a. Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. Jika perlu, pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjang. Pertahankan kesabaran pada saat melahirkan plasenta.
b. Pada saat kontraksi berikutnya terjadi, ulangi penegangan tali pusat terkendali dan tekanan dorso-kranial pada korpus uteri secara serentak. Ikuti langkah-langkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa plasenta terlepas dari dinding uterus.
7. Setelah plasenta terpisahanjurkan ibu untuk meneran agar plasenta terdorong keluar melalui introitus vagina. Tetap tegangkan tali pusat denga arah sejajar lantai (mengikuti poros jala lahir).
Alasan : segera lepaskan plasenta yang telah terpisah dari dinding uterus akan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu.
Jangan melakukan penegangan tali pusat tanpa diikuti dengan tekanan dorso-kranial secara serentak pada bagian bawah uterus (di atas simfisis pubis).
8. Pada saat plasenta terlihat pada introitus vagina, lahirkan plasenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang plasenta dengan tangan lainnya untuk diletakkan dalam wadah penampung. Karena sela[ut ketuban mudah robek ; pegang plasenta dengan kedua tangan dan secara lembutputar plasenta hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.
9. Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan-lahan untuk melahirkan selaput ketuban. Alasan : melahirkan plasenta dan selapunya dengan hati-hati akan membantu mencegah tertinggalnya selaput ketuban di jalan lahir.
10. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dalam lahir saat melahirkan plasenta, dengan hati-hati periksa vagina dan serviks dengan seksama. Gunakan jari-jari tangan anda atau klem ke dalam DTT atau steril atau forsep untuk keluarkan selaput ketuban yang teraba.
Catatan :
Jika plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit oksitosin IM dosis kedua. Periksa kandung kemih. Jika ternyata penuh, gunakan teknik aseptik untuk memasukkan kateter Nelaton disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk mengosongka kandung kemih. Ulangi kembali penegangan tali pusat dan tekanan dorso-kranial seperti yang diuraikan diatas. Nasehati keluarga bahwa rujukan mungkin diperlukan jika plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit. Pada menit ke-30 coba lagi melahirkan plasenta dengan melakukan penegangan tali pusat untuk terakhir kalinya. Jika plasenta tetap tidak lahir, rujuk segera. Ingat, apabila plasenta tidak lahir setelah 30 menit, jangan mencoba untuk melepaskan dan segera lakukan rujukan.
KEHAMILAN EKTOPIK
KEHAMILAN EKTOPIK
Posted by : Violita Siska Mutiara, Amd.Keb
A. TINJAUAN PUSTAKA
1) DEFINISI
- Menurut Taber (1994), kehamilan ektopik adalah gestasi diluar kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauterin, karena istilah ini mencakup gestasi pada pars interstisialis tuba, kehamila kornu (gestasi pada kornu uteri yang rudimenter), dan kehamilan servikalis (gestasi dalam kanalis servikalis) dan juga kehamilan abdominal, kehamilan ovarial dan kehamilan tuba.
- Menurut Mansjoer (1999), kehamilan ektopik adalah implanttasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar endometrium kavum uteri.
- Menurut Manuaba (1998), terdapat dua pengertian yang perlu mendapat perhatian, yaitu kehamilan ektopik adalah kehamilan yan berimplantasi diluar endometrium normal dan kehamilan ekstrauterin adalah kehamilan yang berimplantasi diluar uterus. Dengan pengertian ini maka kehamilan pada pars interstitial tuba dan kehamilan pada servikal termasuk kehamilan ekstrauterin, tetapi mempunyai sifat kehamilan ektopik yang sangat berbahaya.
- Menurut Winkjosastro (2002), kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
- Menurut Saifuddin (2000), kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Sedangkan kehamilan ektopik tergangguialah kehamilan ektopik yang mengalami abortus atau rupture apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya : Tuba).
2) ETIOLOGI
- Menurut Manjoer (1999), etiologi kehamilan ektopik antara lain :
a. Faktor Tuba
• Salpingitis.
• Perlekatan Tuba.
• Kelainan Kongenital Tuba.
• Pembedahan sebelumnya.
• Endometriosis.
• Tumor yang mengubah bentuk tuba.
• Kehamilan ektopik sebelumnya.
b. Kelainan Zigot
• Kelainan kromosom.
• Malformasi.
c. Faktor Ovarium
• Migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya).
• Pembesaran Ovarium.
• Unextruded Ovarium.
d. Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral.
e. Faktor lain :
• Aborsi tuba.
• Pemakaian IUD
3) MACAM KEHAMILAN EKTOPIK
- Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :
a) Kehamilan Abdominal
Kehamilan/gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum.
(sinonim : kehamilan intraperitoneal)
b) Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.
c) Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.
d) Kehamilan Heterotopik Kombinasi
Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.
e) Kehamilan Kornu
Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.
f) Kehmailan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.
g) Kehmailan Intraligamenter
Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.
h) Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.
i) Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.
j) Kehamilan Tuba
Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.
4) PATOGENESIS
- Menurut Manuaba (1998), dengan terjadinya implantasi di dalam lumen tuba dapat terjadi beberapa kemungkinan, antara lain :
a) Hasil konsepsi mati dini.
• Tempatnya tidak mungakin memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi mati secara dini.
• Karena kecilnya kemungkinan di resorbsi.
b) Terjadi Abortus.
• Kesempatan berkembang yang sangat kecil menyebabkan hasil konsepsi mati dan lepas dalam lumen.
• Lepasnya hasil kondepsi menimbulkan perdarahan dalam lumen tuba atau keluar lumen serta bentuk timbunan darah.
• Tuba tampak berwarna biru pada saat dilakukan operasi.
c) Tuba fallopii pecah.
• Karena tidak dapat berkembang dengan baik maka tuba dapat pecah.
• Jonjot Villi menembus tuba, sehingga terjadi rupture yang menimbulkan timbunan darah ke dalam ruangan abdomen.
• Rupture tuba menyebabkan hasil konsepsi terlempar keluar dan kemungkinan untuk melakukan implantasi menjadi kehamilan sekunder.
• Kehamilan abdominal dapat mencapai cukup besar.
5) PENANGANAN
- Menurut Taber (1994), penangan kehamilan ektopik antara lain :
A. Kehamilan Tuba
1) Data Subjektif
Gejala saat ini :
Nyeri abdomen, terutama nyeri pelvic unilateral maupun bilateral pada abdomen bagian bawah, pada abdomen bagian atas atau seluruh abdomen.
Perdarahan pervaginam atau bercak-bercak pada rahim.
Riwayat haid normalyang terakhir kemungkinan yang terjadi 6 sampai 8 minggu sebelum mulai timbulnya nyeri abdomen dan bercak perdarahan pervaginam.
Sinkope atau perubahan-perubahan ortostatik.
Nausea, Vomitus dan pembengkakkan payudara.
Tekanan pada rectum atau suatu urgensi atau defekasi.
Riwayat penyakit dahulu :
Pernah mengalami keahmilan ektopik.
Riwayat kontrasepsi oral atau AKDR.
Riwayat operasi tuba.
2) Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum :
Shock Hipovolemik dan Hipotensi Ortostatik (Postural)
Pemeriksaan Abdomen :
- Rasa sakit di kuadran bawah unilateral.
- Bising usus menurun.
- Mungkin ditemukan distensi dengan perasaan seperti adonan pada palpasi.
- Sebelum terjadi ruptur, temuan-temuan pada pemeriksaan abdomen biasanya normal.
Pemeriksaan Pelvis :
- Nyeri unilateral pada pelvis dan rasa sakit yang terlokalisir pada suatu daerah adneksa.
Tes Laboratorium :
Pemeriksaan darah lengkap dengan apusan darah.
Urinalis normal.
Golongan darah dan rhesus untuk penggantian darah jika ada indikasi.
3) Penilaian
Diagnosis banding
Abortus iminens atau abortus inkompletus dari kehamilan intrauterine.
Inveksi pelvis.
Korpus luteum persisten dengan perdarahan intra abdominal.
Kista ovarium dengan torsi atau Torsi Adneksa.
Apendisitis akut.
4) Rencana
Data diagnostic tambahan
Kuldosentesis
Cairan peritoneum di aspirasi dan kavum Douglasi Posterior dengan menusukkan jarum ajang No.16 atau 18 melalui torniks posterior.
Tes kehamilan untuk HCG.
Laju endap darah biasanya dalam batas-batas normal.
Penetapan hematokrit secara serial.
Ultrasonografi : masa adneksa, cairan dalam kavum douglasi.
Foto abdomen :Cairan bebas dalam kavum peritoneum.
Laparoskopi.
Kuretase Endometrium.
Kaolpotomi atau Kuldoskopi.
Penatalaksanaan
Prinsip kerja umum :
1. Rawat inap segera.
2. Operasi segera setelah diagnostic di tegakkan.
3. Penggantian darah sebagai indikasi Hipovolemia atau anemia.
Langkah-langkah spesifik :
Tindakan preoperasi.
Keputusan operasi :
1. Kolpotomi atau Insisi Caparotomi.
2. Mereseksi atau mempertahankan tuba.
3. Reseksi kornu dengan Salpingektomi.
4. Mengangkat atau membiarkan ovarium pada sisi yang terkena.
B. Kehamilan Abdominal
1) Data Subjektif
Gejala saat ini :
Nyeri abdomen bagian bawah atau intermitting.
Jika bayinya hidup, gerakan janin akan dirasakan sangat nyeri.
Riwayat haid terakhir sesuai umur kehamilan. Kehamilan abdominal aka menjadi simtomatik antara gestasi 12 dan 40 minggu.
Nausea, vomitus, dan diare merupakan gejala-gejala yang bervariasi.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat spotting.
Perdarahan irengular.
2) Data Objektif
Pemeriksaan Umum :
- Seringkali normal.
Pemeriksaan Abdomen :
Abdomen lebih sakit daripada normal.
Bagian-bagian janin dapat teraba sedemikian dekat dengan dinding abdomen.
DJJ seringkali tidak ada.
Kontraksi uterus tidak dapat di palpasi.
Lengkungan uterus tidak ada.
Pemeriksaan Pelvis :
Serviks sering berpindah tempat ke anterior dan superior.
Serviks kaku.
Uterus mungkin berpindah tempat ke atas dan di identifikasi terpisah dari janin.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
Kehamilan intrauterine.
4) Rencana
Data diagnostic tambahan :
Ultrasonografi : kavum uteri kosong.
Oxitocin Challenge Test.
Adanya kontraksi uterus menyingkirkan diagnosis kehamilan abdominal.
Foto abdomen.
Histerogram.
Angiografi Pelvis.
Penatalaksanaan :
Rawat inap.
Laparotomi Eksplorasi.
C. Kehamilan Servikal
1) Data Subjektif
Perdarahan pervaginam.
Demam dan menggigil.
2) Data Objektif
Pemeriksaan pelvis :
• Serviks mengalami distensi dan berbanding tipis dengan OUE berdilatasi sebagian.
• Fundus uteri sedikit membesar.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
Abortus iminens.
Abortus Aseptik.
Keganasan Servikal.
Plasenta Previa.
4) Rencana
Penatalaksanaan :
Intervensi bedah.
Kuret.
Ligasi cabang desensus artei uterine.
Histerektomi.
D. Kehamilan Ovarial
1) Data Subjektif
Nyeri abdomen.
Perdarahan pervaginam.
Amenore.
2) Data Objektif
Pemeriksaan abdomen dan pelvis : member kesan perdarahan intra abdominal.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
a. Kehamilan tuba.
b. Perdarahan Korpus Luteum.
c. Tumor Ovarium.
4) Rencana
Tes HCG.
Laparoskopi Diagnostik.
Laparotomi Eksplorasi.
Pada waktu pembedahan, ooforektomi atau wedge resection sebagian biasanya diperlukan.
6) TINDAKAN BIDAN
Menurut Manuaba (1998), kehamilan ektopik terganggu merupakan masalah klinis yang memerlukan penanganan spesialis, sehingga rujukan merupakan langkah yang sangat penting. Dengan gambaran klinis kehamilan ektopik terganggu, kiranya bidan dapat menegakkan diagnosis kemungkinan, sehingga sikap yang diambil adalah segera merujuk penderita ke Puskesmas, Dokter atau langsung ke Rumah Sakit.
B. KESIMPULAN
1. ULASAN
Menurut penyusun, definisi yang lebih tepat untuk di jadikan landasan teori adalah definisi kehamilan ektopik menurut Taber (1994) dilengkapi dengan definisi kehamilan ektopik terganggu (KET) menurut Saifuddin (2000).
Penyusun memilih etiologi kehamilan ektopik menurut Mansjoer (1999), karena merupakan etiologi yang paling lengkap dan sistematis dibanding sumber pustaka lain.
Penyusun memilih macam-macam kehamilan ektopik menurut Taber (1994), karena lebih lengkap beserta pengertian masing-masing macamnya disbanding dengan sumber pustaka lain.
Penyusun memilih pathogenesis menurut Manuaba (1998), karena lebih detail dalam menjelaskan masing-masing petogenesis disbanding sumber pustaka lain.
Penyusun memilih penanganan menurut Taber (1994), karena dibedakan menurut masing-masing macam kehamilan ektopik dan dijelaskan secara detail temtang data subjektif, objektif, penilaian, rencana dan penatalaksanaan.
Penyusun memilih tindakan bidan menurut manuaba (1998), karena hanya sumber pustaka ini yang mencantum tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik.
2. KRITIK
Pada sumber pustaka Ilmu Kebidanan Winkjosastro (2002), tidak ada panduan tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik, hanya ada panduan tindakan untuk dokter. Menurut penyusun sebaiknya dlaam ilmu kebidanan dicantumkan panduan tindakan untuk bidan.
Untuk sumber pustaka Kapita Selekta Kedokteran data yang ada sangat ringkas, meskipun Kapita Selekta merupakan intisari, menurut penyusun sebaiknya diperlengkap terutama pada bagian definisi dan penatalaksanaan.
Untuk sumber pustaka lain intinya hanya lebih melengkapi informasi yang ada dan menurut penyusun sebaiknya materi dalam buku disusun sebaiknya materi dalam buku disusun secara lebih sistematis agar lebih mudah untuk di mengerti.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, A.1999. Kapita Selekta kedokteran / Ed.3 / Cet.1. Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Saifuddin, A.B.dkk.2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kessehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Taber, B.1994. Kapita Selekta Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.
Winkjosastro, H.dkk.2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Posted by : Violita Siska Mutiara, Amd.Keb
A. TINJAUAN PUSTAKA
1) DEFINISI
- Menurut Taber (1994), kehamilan ektopik adalah gestasi diluar kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauterin, karena istilah ini mencakup gestasi pada pars interstisialis tuba, kehamila kornu (gestasi pada kornu uteri yang rudimenter), dan kehamilan servikalis (gestasi dalam kanalis servikalis) dan juga kehamilan abdominal, kehamilan ovarial dan kehamilan tuba.
- Menurut Mansjoer (1999), kehamilan ektopik adalah implanttasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar endometrium kavum uteri.
- Menurut Manuaba (1998), terdapat dua pengertian yang perlu mendapat perhatian, yaitu kehamilan ektopik adalah kehamilan yan berimplantasi diluar endometrium normal dan kehamilan ekstrauterin adalah kehamilan yang berimplantasi diluar uterus. Dengan pengertian ini maka kehamilan pada pars interstitial tuba dan kehamilan pada servikal termasuk kehamilan ekstrauterin, tetapi mempunyai sifat kehamilan ektopik yang sangat berbahaya.
- Menurut Winkjosastro (2002), kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
- Menurut Saifuddin (2000), kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Sedangkan kehamilan ektopik tergangguialah kehamilan ektopik yang mengalami abortus atau rupture apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya : Tuba).
2) ETIOLOGI
- Menurut Manjoer (1999), etiologi kehamilan ektopik antara lain :
a. Faktor Tuba
• Salpingitis.
• Perlekatan Tuba.
• Kelainan Kongenital Tuba.
• Pembedahan sebelumnya.
• Endometriosis.
• Tumor yang mengubah bentuk tuba.
• Kehamilan ektopik sebelumnya.
b. Kelainan Zigot
• Kelainan kromosom.
• Malformasi.
c. Faktor Ovarium
• Migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya).
• Pembesaran Ovarium.
• Unextruded Ovarium.
d. Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral.
e. Faktor lain :
• Aborsi tuba.
• Pemakaian IUD
3) MACAM KEHAMILAN EKTOPIK
- Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :
a) Kehamilan Abdominal
Kehamilan/gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum.
(sinonim : kehamilan intraperitoneal)
b) Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.
c) Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.
d) Kehamilan Heterotopik Kombinasi
Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.
e) Kehamilan Kornu
Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.
f) Kehmailan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.
g) Kehmailan Intraligamenter
Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.
h) Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.
i) Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.
j) Kehamilan Tuba
Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.
4) PATOGENESIS
- Menurut Manuaba (1998), dengan terjadinya implantasi di dalam lumen tuba dapat terjadi beberapa kemungkinan, antara lain :
a) Hasil konsepsi mati dini.
• Tempatnya tidak mungakin memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi mati secara dini.
• Karena kecilnya kemungkinan di resorbsi.
b) Terjadi Abortus.
• Kesempatan berkembang yang sangat kecil menyebabkan hasil konsepsi mati dan lepas dalam lumen.
• Lepasnya hasil kondepsi menimbulkan perdarahan dalam lumen tuba atau keluar lumen serta bentuk timbunan darah.
• Tuba tampak berwarna biru pada saat dilakukan operasi.
c) Tuba fallopii pecah.
• Karena tidak dapat berkembang dengan baik maka tuba dapat pecah.
• Jonjot Villi menembus tuba, sehingga terjadi rupture yang menimbulkan timbunan darah ke dalam ruangan abdomen.
• Rupture tuba menyebabkan hasil konsepsi terlempar keluar dan kemungkinan untuk melakukan implantasi menjadi kehamilan sekunder.
• Kehamilan abdominal dapat mencapai cukup besar.
5) PENANGANAN
- Menurut Taber (1994), penangan kehamilan ektopik antara lain :
A. Kehamilan Tuba
1) Data Subjektif
Gejala saat ini :
Nyeri abdomen, terutama nyeri pelvic unilateral maupun bilateral pada abdomen bagian bawah, pada abdomen bagian atas atau seluruh abdomen.
Perdarahan pervaginam atau bercak-bercak pada rahim.
Riwayat haid normalyang terakhir kemungkinan yang terjadi 6 sampai 8 minggu sebelum mulai timbulnya nyeri abdomen dan bercak perdarahan pervaginam.
Sinkope atau perubahan-perubahan ortostatik.
Nausea, Vomitus dan pembengkakkan payudara.
Tekanan pada rectum atau suatu urgensi atau defekasi.
Riwayat penyakit dahulu :
Pernah mengalami keahmilan ektopik.
Riwayat kontrasepsi oral atau AKDR.
Riwayat operasi tuba.
2) Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum :
Shock Hipovolemik dan Hipotensi Ortostatik (Postural)
Pemeriksaan Abdomen :
- Rasa sakit di kuadran bawah unilateral.
- Bising usus menurun.
- Mungkin ditemukan distensi dengan perasaan seperti adonan pada palpasi.
- Sebelum terjadi ruptur, temuan-temuan pada pemeriksaan abdomen biasanya normal.
Pemeriksaan Pelvis :
- Nyeri unilateral pada pelvis dan rasa sakit yang terlokalisir pada suatu daerah adneksa.
Tes Laboratorium :
Pemeriksaan darah lengkap dengan apusan darah.
Urinalis normal.
Golongan darah dan rhesus untuk penggantian darah jika ada indikasi.
3) Penilaian
Diagnosis banding
Abortus iminens atau abortus inkompletus dari kehamilan intrauterine.
Inveksi pelvis.
Korpus luteum persisten dengan perdarahan intra abdominal.
Kista ovarium dengan torsi atau Torsi Adneksa.
Apendisitis akut.
4) Rencana
Data diagnostic tambahan
Kuldosentesis
Cairan peritoneum di aspirasi dan kavum Douglasi Posterior dengan menusukkan jarum ajang No.16 atau 18 melalui torniks posterior.
Tes kehamilan untuk HCG.
Laju endap darah biasanya dalam batas-batas normal.
Penetapan hematokrit secara serial.
Ultrasonografi : masa adneksa, cairan dalam kavum douglasi.
Foto abdomen :Cairan bebas dalam kavum peritoneum.
Laparoskopi.
Kuretase Endometrium.
Kaolpotomi atau Kuldoskopi.
Penatalaksanaan
Prinsip kerja umum :
1. Rawat inap segera.
2. Operasi segera setelah diagnostic di tegakkan.
3. Penggantian darah sebagai indikasi Hipovolemia atau anemia.
Langkah-langkah spesifik :
Tindakan preoperasi.
Keputusan operasi :
1. Kolpotomi atau Insisi Caparotomi.
2. Mereseksi atau mempertahankan tuba.
3. Reseksi kornu dengan Salpingektomi.
4. Mengangkat atau membiarkan ovarium pada sisi yang terkena.
B. Kehamilan Abdominal
1) Data Subjektif
Gejala saat ini :
Nyeri abdomen bagian bawah atau intermitting.
Jika bayinya hidup, gerakan janin akan dirasakan sangat nyeri.
Riwayat haid terakhir sesuai umur kehamilan. Kehamilan abdominal aka menjadi simtomatik antara gestasi 12 dan 40 minggu.
Nausea, vomitus, dan diare merupakan gejala-gejala yang bervariasi.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat spotting.
Perdarahan irengular.
2) Data Objektif
Pemeriksaan Umum :
- Seringkali normal.
Pemeriksaan Abdomen :
Abdomen lebih sakit daripada normal.
Bagian-bagian janin dapat teraba sedemikian dekat dengan dinding abdomen.
DJJ seringkali tidak ada.
Kontraksi uterus tidak dapat di palpasi.
Lengkungan uterus tidak ada.
Pemeriksaan Pelvis :
Serviks sering berpindah tempat ke anterior dan superior.
Serviks kaku.
Uterus mungkin berpindah tempat ke atas dan di identifikasi terpisah dari janin.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
Kehamilan intrauterine.
4) Rencana
Data diagnostic tambahan :
Ultrasonografi : kavum uteri kosong.
Oxitocin Challenge Test.
Adanya kontraksi uterus menyingkirkan diagnosis kehamilan abdominal.
Foto abdomen.
Histerogram.
Angiografi Pelvis.
Penatalaksanaan :
Rawat inap.
Laparotomi Eksplorasi.
C. Kehamilan Servikal
1) Data Subjektif
Perdarahan pervaginam.
Demam dan menggigil.
2) Data Objektif
Pemeriksaan pelvis :
• Serviks mengalami distensi dan berbanding tipis dengan OUE berdilatasi sebagian.
• Fundus uteri sedikit membesar.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
Abortus iminens.
Abortus Aseptik.
Keganasan Servikal.
Plasenta Previa.
4) Rencana
Penatalaksanaan :
Intervensi bedah.
Kuret.
Ligasi cabang desensus artei uterine.
Histerektomi.
D. Kehamilan Ovarial
1) Data Subjektif
Nyeri abdomen.
Perdarahan pervaginam.
Amenore.
2) Data Objektif
Pemeriksaan abdomen dan pelvis : member kesan perdarahan intra abdominal.
3) Penilaian
Diagnosis banding :
a. Kehamilan tuba.
b. Perdarahan Korpus Luteum.
c. Tumor Ovarium.
4) Rencana
Tes HCG.
Laparoskopi Diagnostik.
Laparotomi Eksplorasi.
Pada waktu pembedahan, ooforektomi atau wedge resection sebagian biasanya diperlukan.
6) TINDAKAN BIDAN
Menurut Manuaba (1998), kehamilan ektopik terganggu merupakan masalah klinis yang memerlukan penanganan spesialis, sehingga rujukan merupakan langkah yang sangat penting. Dengan gambaran klinis kehamilan ektopik terganggu, kiranya bidan dapat menegakkan diagnosis kemungkinan, sehingga sikap yang diambil adalah segera merujuk penderita ke Puskesmas, Dokter atau langsung ke Rumah Sakit.
B. KESIMPULAN
1. ULASAN
Menurut penyusun, definisi yang lebih tepat untuk di jadikan landasan teori adalah definisi kehamilan ektopik menurut Taber (1994) dilengkapi dengan definisi kehamilan ektopik terganggu (KET) menurut Saifuddin (2000).
Penyusun memilih etiologi kehamilan ektopik menurut Mansjoer (1999), karena merupakan etiologi yang paling lengkap dan sistematis dibanding sumber pustaka lain.
Penyusun memilih macam-macam kehamilan ektopik menurut Taber (1994), karena lebih lengkap beserta pengertian masing-masing macamnya disbanding dengan sumber pustaka lain.
Penyusun memilih pathogenesis menurut Manuaba (1998), karena lebih detail dalam menjelaskan masing-masing petogenesis disbanding sumber pustaka lain.
Penyusun memilih penanganan menurut Taber (1994), karena dibedakan menurut masing-masing macam kehamilan ektopik dan dijelaskan secara detail temtang data subjektif, objektif, penilaian, rencana dan penatalaksanaan.
Penyusun memilih tindakan bidan menurut manuaba (1998), karena hanya sumber pustaka ini yang mencantum tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik.
2. KRITIK
Pada sumber pustaka Ilmu Kebidanan Winkjosastro (2002), tidak ada panduan tindakan bidan dalam menghadapi kehamilan ektopik, hanya ada panduan tindakan untuk dokter. Menurut penyusun sebaiknya dlaam ilmu kebidanan dicantumkan panduan tindakan untuk bidan.
Untuk sumber pustaka Kapita Selekta Kedokteran data yang ada sangat ringkas, meskipun Kapita Selekta merupakan intisari, menurut penyusun sebaiknya diperlengkap terutama pada bagian definisi dan penatalaksanaan.
Untuk sumber pustaka lain intinya hanya lebih melengkapi informasi yang ada dan menurut penyusun sebaiknya materi dalam buku disusun sebaiknya materi dalam buku disusun secara lebih sistematis agar lebih mudah untuk di mengerti.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, A.1999. Kapita Selekta kedokteran / Ed.3 / Cet.1. Jakarta : Media Aesculapius.
Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Saifuddin, A.B.dkk.2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kessehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Taber, B.1994. Kapita Selekta Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC.
Winkjosastro, H.dkk.2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Rabu, 14 Januari 2009
Karya Tulis Ilmiah
HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN
DIARE PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS NGAGLIK I DAN II
NASKAH PUBLIKASI
Program Studi Diploma III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati
Disusun Oleh :
VIOLITA SISKA MUTIARA
NIM : 04110098
Kepada
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RESPATI YOGYAKARTA
2007
PENDAHULUAN
Di negara yang sedang berkembang penyebab kematian awal banyak diakibatkan oleh penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi adalah diare (Depkes RI, 2001). Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi banyak masalah kesehatan terutama peningkatan penyakit berbasis lingkungan. Salah satu dari penyakit berbasis lingkungan adalah penyakit diare. (Widjaja, 2003).
Di Indonesia angka kesakitan diare pada semua umur masih mencapai 300 per 1000 penduduk. Angka kematian diare pada semua umur di Indonesia adalah 54 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2001).Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar antara 150-430 per seribu setahunnya (FKUI, 2002).
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga, Departemen Kesehatan RI Tahun 1996, 12% penyebab kematian adalah diare. Disebutkan, akibat diare dari 1000 bayi, 70 bayi meninggal dunia sebelum merayakan hari ulang tahunnya yang pertama. Ditemukan pula bahwa dari tujuh bayi yang dikubur, satu diantaranya meninggal karena diare (Widjaja, 2002).
Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor risiko terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan). Menurut Suparyasa (2002), faktor lain yang berhubungan dengan interaksi antara infeksi dan malnutrisi adalah akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.
Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Suharyono (1985) menyebutkan bahwa faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan.Sedangkan penelitian Susanto (2004) menyebutkan bahwa pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap keadaan lingkungan, keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kejadian diare
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.
Menurut Suharti (2000), balita penderita diare berdasarkan golongan umur yang banyak adalah golongan umur 6-12 bulan yaitu 40,5% dan umur 13-24 bulan yaitu 29,4%. Menurut Rumbarar (1995), balita usia 8-13 bulan mempunyai risiko yang tinggi terjadinya diare. Diare lebih banyak terjadi pada anak balita laki-laki daripada anak balita perempuan. Anak balita dengan status gizi yang jelek mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi baik. Ibu-ibu yang berpendidikan tinggi anak balitanya mempunyai risiko yang lebih rendah untuk menderita diare daripada ibu-ibu yang berpendidikan rendah. Anak balita yang ibunya bekerja di luar rumah berisiko tinggi untuk terjadinya diare dibanding ibu yang tidak bekerja di luar rumah.
Menurut Budiarti (2006), faktor status gizi, lingkungan, status ekonomi dan pemberian makanan bukan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada anak balita tetapi merupakan faktor protektif. Faktor status ekonomi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada anak balita.
Menurut Setyaningsih (2006) asupan energi, asupan protein dan bentuk makanan belum dapat dikatakan bukan atau sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada anak balita karena nilai Odds Ratio dan faktor tersebut tidak dapat diketahui disebabkan populasi yang terlalu homogen dan bias recall. Umur anak dan jenis kelamin merupakan faktor risiko kejadian diare pada anak balita. Pekerjaan ibu merupakan faktor protektif terhadap kejadian diare pada anak balita. Tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor protektif terhadap risiko diare pada balita.
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman (2007), angka kematian bayi di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2006 sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup, 66% kematian tersebut dikarenakan diare. Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sleman dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 menunjukkan angka yang fluktuatif. Tahun 1997 ada 8 kematian per 1000 kelahiran hidup, 1998 ada 9,92 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 1999 ada 11 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2000 ada 11,25 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2001 ada 9,25 kematian per 1000 kelahiran hidup dan tahun 2002 sebanyak 8,01 kematian per 1000 kelahiran hidup.
Menurut profil Puskesmas Ngaglik I tahun 2006, di Puskesmas Ngaglik I tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri atas 26 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 67 kasus. Menurut Laporan Kasus Kesakitan Puskesmas Ngaglik II di Puskesmas Ngaglik II tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri dari 41 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 115 kasus.
KONSEP TEORITIK
1. Susu formula
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Karakteristik susu formula yaitu tidak seluruh zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi, Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey: casein susu sapi 20:80. Susu formula sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernaan. Perlu diketahui, serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras. Komposisi zat gizi susu formula selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai), hanya sedikit mengandung imunoglobulin.yang sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak diperlukan oleh tubuh). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup (Handajani, 2002).
2. Diare
Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (FKUI, 2002). Menurut Lebenthal (1981), definisi diare secara klinis adalah pasasi yang frekwen dari tinja dengan konsistensi lembek sampai cair. Definisi tersebut sangat subjektif, karena keadaan tinja untuk masing-masing individu sulit disamaratakan.
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Andrianto (1995), dalam terjemahannya mengatakan bahwa diare atau penyakit diare (Diarreheal Disease) berasal dari kata diarroia (bahasa Yunani) yang berarti mengalir terus, yang merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu sering. Diare adalah jumlah buang air besar normal dalam sehari bervariasi sesuai dengan diit dan usia. Pada diare tinja mengandung lebih banyak air dibandingkan yang normal, sering disebut mencret. Tinja seperti air diare yang mengandung darah disebut desentri.
Menurut Widjaja (2002), diare adalah buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Menurut Edward (2000), diare mengacu pada konsistensi tinja dan bukan pada frekuensi buang air. Diare adalah tinja yang lunak dan berair sering mengandung lendir dan kadangkala bercak-bercak darah merah, dan kuantitas buang air antara satu sampai dua puluh kali per hari. (Frekuensi dan volume tinja yang lunak menjadi ukuran berat dan tidaknya diare).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare menurut Noerosid (2003), antara lain faktor status gizi, faktor ekonomi dan pola pemberian makanan. Status gizi memberikan gambaran keadaan keseimbangan antara konsumsi dengan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut. Kecukupan gizi akan mempengaruhi ketahanan fisik seseorang untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan tidak mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit infeksi seperti diare. Anak balita dengan status gizi tidak baik mempunyai risiko yang lebih tiggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi yang baik (Suwarko, 1995). Penelitian lain mengatakan ada hubungan yang sangat lemah antara diare dengan status gizi meskipun secara stastitik bermakna tetapi hubungannya sangat lemah dengan perbedaan kontingensi 0,0117 (Nainggolan,1993). Faktor ekonomi adalah pendapatan keluarga dihitung dari pendapatan keluarga perkapita dalam waktu satu bulan. Sulitnya menghitung pendapatan riil seseorang, maka pengeluaran keluarga dapat dipakai sebagai salah satu indikator yang dapat menggambarkan keadaan kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan pada anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (Suharyono, 1985). Penelitian lain menyebutkan pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap kejadian diare dimana lingkungan yang tidak baik menjadikan balita mempunyai 2,69 kali lebih lama menderita diare, memiliki risiko 2,25 lebih sering terkena diare dibanding balita dengan lingkungan baik (Susanto, 2004). Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Kejadian diare 1,31 lebih sering terjadi pada anak yang mempunyai pola pemberian makanan yang tidak baik. Menurut penelitian Supardi (2004), pola pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, P>0,05 namun hasil OR 1,17 menunjukkan faktor pola pemberian makanan tidak baik memiliki kemungkinan 1,2 kali lebih besar menderita diare dibandingkan dengan pola pemberian makanan yang baik.
2. Mekanisme kejadian diare yang disebabkan oleh pemberian susu formula
Jika ada anak yang sehabis makan dan minum zat yang mengandung karbohidrat seperti susu formula, bubur, nasi, roti dan lain-lain, kemudian mengalami diare berulang harus diwapadai adanya kemungkinan mengalami intolerance terhadap laktosa. Ia hanya dapat didorong dengan pemberian makanan yang bebas laktosa atau rendah laktosa (Widjaja, 2002).
Faktor-faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987). Harus diperhatikan dalam 24 jam bayi harus diberi minum paling sedikit 150 ml susu per kilogram berat badannya. Misalnya bayi berumur 5 bulan dengan berat badan 6 kilogram, harus menerima susu sebanyak 900 ml dalam 24 jam. Sebaiknya tidak terlalu sering mengganti atau merubah jenis susu karena dapat menyebabkan lambung bayi harus berulang-ulang beradaptasi dengan jenis susu baru, bahkan dapat saja bayi alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan (Widjaja, 2002).
LANDASAN TEORI
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisiya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987).
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari.Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan).
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.
METODE PENELITIAN
1. Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan case control. Kelompok kasus adalah bayi berumur 6-12 bulan yang menderita diare, sedangkan kelompok kontrol adalah bayi berumur 6-12 bulan yang tidak menderita diare.
2. Populasi dan Sampel
Sampel diambil dari pasien bayi berumur 6-12 bulan yang diperiksakan keluarganya atau berkunjung ke Puskesmas, Posyandu, dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik I dan II. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling (non-probability sampling), sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.
3. Teknik Pengumpulan data
Kejadian diare dan pemberian susu formula melalui wawancara langsung pada keluarga pasien menggunakan lembar wawancara. Data sekunder dari catatan dari catatan medis Puskesmas, buku KIA dan register Posyandu. Data sekunder hanya untuk melengkapi data primer. Bila data sekunder tidak lengkap, sumber data didapat dari data primer melalui wawancara langsung pada keluarga pasien
4. Teknik Analisis Data
Data kejadian diare dan pemberian susu formula, disajikan secara deskriptif menggunakan tabel, data hubungan antar variabel dianalisis dengan menggunakan chi square dan Mantel Haenszel Odds Ratio (MOR). Sedangkan data umur, jenis kelamin, status gizi, status imunisasi bayi, sosial ekonomi, pendidikan, status pekerjaan ibu, cara pengasuhan bayi, dan pemberian makanan pendamping ASI disajikan secara deskriptif mengunakan tabel. Perbedaan karakteristik antara kelompok kasus dan kontrol diuji dengan independent t-test bila skalanya numerik dan chi square untuk skala kategorikal.
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Ditinjau dari pembagian wilayah kerja Puskesmas, maka Puskesmas Ngaglik I di Kecamatan Ngaglik mempunyai wilayah kerja yang terdiri atas 3 desa, yaitu Sinduharjo, Sardonoharjo, dan Minomartani. Tiga desa tersebut dibagi lagi menjadi 42 dusun dan 6 RW Perumnas dengan jumlah penduduk sebesar 42.106 jiwa. Jumlah penduduk di Desa Minomartani adalah 13.455 jiwa, di Desa Sinduharjo 13.413 jiwa, dan di Desa Sardonoharjo sebanyak 15.238 jiwa (Puskesmas Ngaglik I, 2006).
Puskesmas Ngaglik II mempunyai luas wilayah 21,52 km2, yang terdiri atas 3 desa, 46 dusun dengan jumlah penduduk 32.309 orang yang terdiri atas 15.922 (49,28%) penduduk laki-laki, serta 16.387 (50,72%) penduduk wanita. Jumlah KK sebesar 9.356 KK dan 12,82% adalah KK Miskin. Wilayah kerja Puskesmas Ngaglik II meliputi tiga desa yaitu Desa Donoharjo, Sariharjo dan Sukoharjo (Puskesmas Ngaglik II, 2006).
KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 responden, maka dapat diidentifikasikan mengenai karakteristik subyek penelitian sebagai berikut:
Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan dengan standar deviasi 1,687, sedangkan pada kelompok kontrol 9,18 bulan dan dengan standar deviasi 1,735. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p=0,690 (>0,05).
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg dengan standar deviasi 0,88, sedangkan pada kelompok kontrol 8,41 kg dan dengan standar deviasi 1,22. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p=0,293(>0,05) dan t=-1,053.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm dengan standar deviasi 5,26, sedangkan pada kelompok kontrol 70,42 cm dan dengan standar deviasi 7,28. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p=0,489 (>0,05) dan t=0,694.
Terdapat 27 kasus diare diantaranya terjadi pada bayi dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 bayi (55,56%), sedangkan pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 bayi (44,44%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,499 (>0,05).
Semua subyek penelitian yaitu 100 bayi (100%) sudah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, BCG dan DPT secara lengkap. Pemberian imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu imunisasi Anti Polio dan Campak. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05.
Status sosial ekonomi keluarga diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu status sosial ekonomi kurang (pendapatan keluarga0,05)
Status pendidikan ibu diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu rendah (tidak tamat SD dan tamat SD), menengah (tamat SMP dan SMA) dan tinggi (tamat Diploma dan Strata). Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah yaitu sebanyak 20 kasus (74,07%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,866 (>0,05).
Pola pengasuhan dibedakan menjadi diasuh ibu dan tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain). Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang selalu diasuh oleh ibu yaitu sebanyak 17 kasus (62,96%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p= 0,427 (>0,05). Sedangkan variabel tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain) yang mengalami diare sebanyak 10 kasus (37,04%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel tidak diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p=0,541 (>0,05).
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu yaitu sebanyak 17 bayi (80,95%), namun secara statistik proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu tidak berbeda bermakna, dengan nilai p=0,379 (>0,05) dan p=0,333 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci tangan sebelum menyuapi anak yang kena diare sebanyak 26 bayi (96,30%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel cuci tangan secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,557 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu menggunakan sendok saat menyuapi anak yang kena diare sebanyak 24 bayi (88,89). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel selalu menggunakan sendok secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,486 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci bahan makanan sebelum dimasak yang kena diare sebanyak 27 bayi (27%) dan yang tidak diare 73 bayi (73%). Subyek penelitian yang makanan yang sudah dimasak akan segera dimakan selagi hangat yang kena diare sebanyak 15 bayi (55,56%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel makan selagi hangat secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,180 (>0,05).
Subyek penelitian yang makanan yang tidak habis dimakan disimpan dalam lemari es yang kena diare sebanyak 2 bayi (7,41%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel menyimpan makanan di lemari es secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,735 (>0,05).
Subyek penelitian yang masih mendapatkan ASI yang kena diare sebanyak 22 bayi (81,48%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel masih diberi ASI secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,549 (>0,05).
Subyek penelitian yang diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 17 bayi (62,96%) dan yang tidak diare 36 bayi (49,32%) dan subyek penelitian yang tidak diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 10 bayi (37,04%) dan yang tidak diare 37 bayi (50,68%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,225 (>0,05), untuk analisis pemberian susu formula akan dijelaskan lebih lanjut dengan nilai Odds Ratio dan Confidence Interval.
Umur awal pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok umur yaitu mulai <6>6 bulan. Kasus diare pada kelompok pemberian <6> 6 bulan sebanyak 3 kasus (17,05%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel umur awal pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,223 (>0,05).
Dosis pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu <6>6 botol. Kasus diare pada kelompok <6> 6 botol sebanyak 8 kasus (47,06%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel dosis pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,196 (>0,05).
Subyek penelitian yang botol/dot selalu direbus setiap memberi minum pada bayi yang kena diare sebanyak 14 bayi (82,35%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel botol/dot selalu direbus secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,441 (>0,05).
Dari 27 subyek penelitian yang mengalami diare, yang juga mengalami muntah sebanyak 1 bayi (3,70%),sedangkan yang mengalami kembung sebanyak 4 bayi (14,81%).
PEMBAHASAN
Peneliti sudah melakukan spesifikasi umur subyek penelitian yaitu umur 6-12 bulan, hal ini sesuai dengan penelitian Suharti (2000) yang menyatakan bahwa balita penderita diare berdasarkan golongan umur terbanyak adalah pada golongan umur 6-12 bulan. Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata umur 9,18 bulan. Hal ini disebabkan subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok tersebut yaitu bayi yang dibawa ke tempat pelayanan kesehatan untuk diimunisasi campak yang rata-rata berumur 9-10 bulan. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel umur bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata berat badan 8,41 kg. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel berat badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm, sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata panjang badan 70,42 cm. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel panjang badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti proporsi variabel jenis kelamin pada kedua kelompok setara dan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Setyaningsih (2006) yang menyatakan jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1 (95%CI 0,75-1,82).
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa riwayat imunisasi bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare. Imunitas bayi lebih dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing individu, sesuai dengan pernyataan Sunoto (1990) yang menyebutkan bahwa rendahnya daya tahan tubuh mempermudah terjadinya infeksi, jika infeksi terjadi di saluran pencernaan dapat menyebabkan diare.
Kasus diare pada sosial ekonomi baik lebih banyak dibanding kasus diare pada sosial ekonomi kurang. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok sosial ekonomi baik. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial ekonomi keluarga tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. dengan demikian variabel status sosial ekonomi bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Budiarti (2006) yang menyatakan status sosial ekonomi bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1,302 (95%CI 0,092-1,058).
Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada status pendidikan ibu menengah. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti variabel status pendidikan ibu bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Pola pengasuhan berkaitan dengan pola pemberian ASI yang berhubungan dengan kekebalan tubuh. Sesuai pernyataan Kalang (1980), yang dikutip Salam (1987), yang menyebutkan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan perawatan anak pada ibu yang tidak bekerja (di rumah saja). Hal ini berpengaruh pada pola pemberian ASI terdapat anak. Pada ibu yang bekerja biasanya penyapihan lebih dini atau terlalu dini, sehingga hal ini menyebabkan anak menjadi lemah karena kekurangan zat pelindung yang terkandung dalam ASI.
Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak yaitu bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian makanan bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian susu formula tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian susu formula bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Pada analisis lebih lanjut terhadap variabel pemberian susu formula menunjukkan bahwa pemberian susu formula meningkatkan kejadian diare 1,747 kali, namun secara statistik tidak bermakna dengan OR=1,747 (95% CI 0,706-4,323, p>0,05). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan atau pemberian susu formula tidak mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.
KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini antara lain terjadinya recall bias pada riwayat kejadian diare 1 minggu atau 1 bulan terakhir karena data didapatkan melalui wawancara bukan pengamatan secara langsunng oleh peneliti. Kurangnya subyek pada kelompok kasus, hal ini sudah diusahakan untuk dihindari oleh peneliti dengan memperluas tempat penelitian dan definisi operasional waktu kejadian diare. Selain itu penelitian ini juga menggunakan lembar wawancara bukan kuesioner dan tidak dilakukan uji validitas.
KESIMPULAN
Dari hasil analisis penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat dikemukakan adalah :
1. Bagi Peneliti selanjutnya
Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor risiko lain yang belum diteliti secara mendalam dalam penelitian ini dengan populasi penelitian yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih besar.
2. Bagi institusi pelayanan kesehatan
Perlu adanya penyuluhan .yang diberikan oleh tenaga kesehatan tentang cara pencegahan diare seperti menanamkan pola higiene dan sanitasi yang baik dalam keluarga dan penyuluhan tentang pentingnya segera membawa anggota keluarga yang terkena diare ke tenaga kesehatan atau sarana kesehatan, sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian diare.
DIARE PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS NGAGLIK I DAN II
NASKAH PUBLIKASI
Program Studi Diploma III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati
Disusun Oleh :
VIOLITA SISKA MUTIARA
NIM : 04110098
Kepada
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RESPATI YOGYAKARTA
2007
PENDAHULUAN
Di negara yang sedang berkembang penyebab kematian awal banyak diakibatkan oleh penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi adalah diare (Depkes RI, 2001). Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi banyak masalah kesehatan terutama peningkatan penyakit berbasis lingkungan. Salah satu dari penyakit berbasis lingkungan adalah penyakit diare. (Widjaja, 2003).
Di Indonesia angka kesakitan diare pada semua umur masih mencapai 300 per 1000 penduduk. Angka kematian diare pada semua umur di Indonesia adalah 54 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2001).Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar antara 150-430 per seribu setahunnya (FKUI, 2002).
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga, Departemen Kesehatan RI Tahun 1996, 12% penyebab kematian adalah diare. Disebutkan, akibat diare dari 1000 bayi, 70 bayi meninggal dunia sebelum merayakan hari ulang tahunnya yang pertama. Ditemukan pula bahwa dari tujuh bayi yang dikubur, satu diantaranya meninggal karena diare (Widjaja, 2002).
Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor risiko terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan). Menurut Suparyasa (2002), faktor lain yang berhubungan dengan interaksi antara infeksi dan malnutrisi adalah akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.
Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Suharyono (1985) menyebutkan bahwa faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan.Sedangkan penelitian Susanto (2004) menyebutkan bahwa pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap keadaan lingkungan, keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kejadian diare
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.
Menurut Suharti (2000), balita penderita diare berdasarkan golongan umur yang banyak adalah golongan umur 6-12 bulan yaitu 40,5% dan umur 13-24 bulan yaitu 29,4%. Menurut Rumbarar (1995), balita usia 8-13 bulan mempunyai risiko yang tinggi terjadinya diare. Diare lebih banyak terjadi pada anak balita laki-laki daripada anak balita perempuan. Anak balita dengan status gizi yang jelek mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi baik. Ibu-ibu yang berpendidikan tinggi anak balitanya mempunyai risiko yang lebih rendah untuk menderita diare daripada ibu-ibu yang berpendidikan rendah. Anak balita yang ibunya bekerja di luar rumah berisiko tinggi untuk terjadinya diare dibanding ibu yang tidak bekerja di luar rumah.
Menurut Budiarti (2006), faktor status gizi, lingkungan, status ekonomi dan pemberian makanan bukan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada anak balita tetapi merupakan faktor protektif. Faktor status ekonomi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada anak balita.
Menurut Setyaningsih (2006) asupan energi, asupan protein dan bentuk makanan belum dapat dikatakan bukan atau sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada anak balita karena nilai Odds Ratio dan faktor tersebut tidak dapat diketahui disebabkan populasi yang terlalu homogen dan bias recall. Umur anak dan jenis kelamin merupakan faktor risiko kejadian diare pada anak balita. Pekerjaan ibu merupakan faktor protektif terhadap kejadian diare pada anak balita. Tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor protektif terhadap risiko diare pada balita.
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman (2007), angka kematian bayi di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2006 sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup, 66% kematian tersebut dikarenakan diare. Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sleman dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 menunjukkan angka yang fluktuatif. Tahun 1997 ada 8 kematian per 1000 kelahiran hidup, 1998 ada 9,92 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 1999 ada 11 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2000 ada 11,25 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2001 ada 9,25 kematian per 1000 kelahiran hidup dan tahun 2002 sebanyak 8,01 kematian per 1000 kelahiran hidup.
Menurut profil Puskesmas Ngaglik I tahun 2006, di Puskesmas Ngaglik I tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri atas 26 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 67 kasus. Menurut Laporan Kasus Kesakitan Puskesmas Ngaglik II di Puskesmas Ngaglik II tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri dari 41 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 115 kasus.
KONSEP TEORITIK
1. Susu formula
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Karakteristik susu formula yaitu tidak seluruh zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi, Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey: casein susu sapi 20:80. Susu formula sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernaan. Perlu diketahui, serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras. Komposisi zat gizi susu formula selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai), hanya sedikit mengandung imunoglobulin.yang sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak diperlukan oleh tubuh). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup (Handajani, 2002).
2. Diare
Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (FKUI, 2002). Menurut Lebenthal (1981), definisi diare secara klinis adalah pasasi yang frekwen dari tinja dengan konsistensi lembek sampai cair. Definisi tersebut sangat subjektif, karena keadaan tinja untuk masing-masing individu sulit disamaratakan.
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Andrianto (1995), dalam terjemahannya mengatakan bahwa diare atau penyakit diare (Diarreheal Disease) berasal dari kata diarroia (bahasa Yunani) yang berarti mengalir terus, yang merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu sering. Diare adalah jumlah buang air besar normal dalam sehari bervariasi sesuai dengan diit dan usia. Pada diare tinja mengandung lebih banyak air dibandingkan yang normal, sering disebut mencret. Tinja seperti air diare yang mengandung darah disebut desentri.
Menurut Widjaja (2002), diare adalah buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Menurut Edward (2000), diare mengacu pada konsistensi tinja dan bukan pada frekuensi buang air. Diare adalah tinja yang lunak dan berair sering mengandung lendir dan kadangkala bercak-bercak darah merah, dan kuantitas buang air antara satu sampai dua puluh kali per hari. (Frekuensi dan volume tinja yang lunak menjadi ukuran berat dan tidaknya diare).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare menurut Noerosid (2003), antara lain faktor status gizi, faktor ekonomi dan pola pemberian makanan. Status gizi memberikan gambaran keadaan keseimbangan antara konsumsi dengan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut. Kecukupan gizi akan mempengaruhi ketahanan fisik seseorang untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan tidak mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit infeksi seperti diare. Anak balita dengan status gizi tidak baik mempunyai risiko yang lebih tiggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi yang baik (Suwarko, 1995). Penelitian lain mengatakan ada hubungan yang sangat lemah antara diare dengan status gizi meskipun secara stastitik bermakna tetapi hubungannya sangat lemah dengan perbedaan kontingensi 0,0117 (Nainggolan,1993). Faktor ekonomi adalah pendapatan keluarga dihitung dari pendapatan keluarga perkapita dalam waktu satu bulan. Sulitnya menghitung pendapatan riil seseorang, maka pengeluaran keluarga dapat dipakai sebagai salah satu indikator yang dapat menggambarkan keadaan kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan pada anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (Suharyono, 1985). Penelitian lain menyebutkan pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap kejadian diare dimana lingkungan yang tidak baik menjadikan balita mempunyai 2,69 kali lebih lama menderita diare, memiliki risiko 2,25 lebih sering terkena diare dibanding balita dengan lingkungan baik (Susanto, 2004). Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Kejadian diare 1,31 lebih sering terjadi pada anak yang mempunyai pola pemberian makanan yang tidak baik. Menurut penelitian Supardi (2004), pola pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, P>0,05 namun hasil OR 1,17 menunjukkan faktor pola pemberian makanan tidak baik memiliki kemungkinan 1,2 kali lebih besar menderita diare dibandingkan dengan pola pemberian makanan yang baik.
2. Mekanisme kejadian diare yang disebabkan oleh pemberian susu formula
Jika ada anak yang sehabis makan dan minum zat yang mengandung karbohidrat seperti susu formula, bubur, nasi, roti dan lain-lain, kemudian mengalami diare berulang harus diwapadai adanya kemungkinan mengalami intolerance terhadap laktosa. Ia hanya dapat didorong dengan pemberian makanan yang bebas laktosa atau rendah laktosa (Widjaja, 2002).
Faktor-faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987). Harus diperhatikan dalam 24 jam bayi harus diberi minum paling sedikit 150 ml susu per kilogram berat badannya. Misalnya bayi berumur 5 bulan dengan berat badan 6 kilogram, harus menerima susu sebanyak 900 ml dalam 24 jam. Sebaiknya tidak terlalu sering mengganti atau merubah jenis susu karena dapat menyebabkan lambung bayi harus berulang-ulang beradaptasi dengan jenis susu baru, bahkan dapat saja bayi alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan (Widjaja, 2002).
LANDASAN TEORI
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisiya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987).
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari.Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan).
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.
METODE PENELITIAN
1. Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan case control. Kelompok kasus adalah bayi berumur 6-12 bulan yang menderita diare, sedangkan kelompok kontrol adalah bayi berumur 6-12 bulan yang tidak menderita diare.
2. Populasi dan Sampel
Sampel diambil dari pasien bayi berumur 6-12 bulan yang diperiksakan keluarganya atau berkunjung ke Puskesmas, Posyandu, dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik I dan II. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling (non-probability sampling), sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.
3. Teknik Pengumpulan data
Kejadian diare dan pemberian susu formula melalui wawancara langsung pada keluarga pasien menggunakan lembar wawancara. Data sekunder dari catatan dari catatan medis Puskesmas, buku KIA dan register Posyandu. Data sekunder hanya untuk melengkapi data primer. Bila data sekunder tidak lengkap, sumber data didapat dari data primer melalui wawancara langsung pada keluarga pasien
4. Teknik Analisis Data
Data kejadian diare dan pemberian susu formula, disajikan secara deskriptif menggunakan tabel, data hubungan antar variabel dianalisis dengan menggunakan chi square dan Mantel Haenszel Odds Ratio (MOR). Sedangkan data umur, jenis kelamin, status gizi, status imunisasi bayi, sosial ekonomi, pendidikan, status pekerjaan ibu, cara pengasuhan bayi, dan pemberian makanan pendamping ASI disajikan secara deskriptif mengunakan tabel. Perbedaan karakteristik antara kelompok kasus dan kontrol diuji dengan independent t-test bila skalanya numerik dan chi square untuk skala kategorikal.
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Ditinjau dari pembagian wilayah kerja Puskesmas, maka Puskesmas Ngaglik I di Kecamatan Ngaglik mempunyai wilayah kerja yang terdiri atas 3 desa, yaitu Sinduharjo, Sardonoharjo, dan Minomartani. Tiga desa tersebut dibagi lagi menjadi 42 dusun dan 6 RW Perumnas dengan jumlah penduduk sebesar 42.106 jiwa. Jumlah penduduk di Desa Minomartani adalah 13.455 jiwa, di Desa Sinduharjo 13.413 jiwa, dan di Desa Sardonoharjo sebanyak 15.238 jiwa (Puskesmas Ngaglik I, 2006).
Puskesmas Ngaglik II mempunyai luas wilayah 21,52 km2, yang terdiri atas 3 desa, 46 dusun dengan jumlah penduduk 32.309 orang yang terdiri atas 15.922 (49,28%) penduduk laki-laki, serta 16.387 (50,72%) penduduk wanita. Jumlah KK sebesar 9.356 KK dan 12,82% adalah KK Miskin. Wilayah kerja Puskesmas Ngaglik II meliputi tiga desa yaitu Desa Donoharjo, Sariharjo dan Sukoharjo (Puskesmas Ngaglik II, 2006).
KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 responden, maka dapat diidentifikasikan mengenai karakteristik subyek penelitian sebagai berikut:
Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan dengan standar deviasi 1,687, sedangkan pada kelompok kontrol 9,18 bulan dan dengan standar deviasi 1,735. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p=0,690 (>0,05).
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg dengan standar deviasi 0,88, sedangkan pada kelompok kontrol 8,41 kg dan dengan standar deviasi 1,22. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p=0,293(>0,05) dan t=-1,053.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm dengan standar deviasi 5,26, sedangkan pada kelompok kontrol 70,42 cm dan dengan standar deviasi 7,28. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p=0,489 (>0,05) dan t=0,694.
Terdapat 27 kasus diare diantaranya terjadi pada bayi dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 bayi (55,56%), sedangkan pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 bayi (44,44%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,499 (>0,05).
Semua subyek penelitian yaitu 100 bayi (100%) sudah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, BCG dan DPT secara lengkap. Pemberian imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu imunisasi Anti Polio dan Campak. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05.
Status sosial ekonomi keluarga diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu status sosial ekonomi kurang (pendapatan keluarga
Status pendidikan ibu diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu rendah (tidak tamat SD dan tamat SD), menengah (tamat SMP dan SMA) dan tinggi (tamat Diploma dan Strata). Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah yaitu sebanyak 20 kasus (74,07%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,866 (>0,05).
Pola pengasuhan dibedakan menjadi diasuh ibu dan tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain). Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang selalu diasuh oleh ibu yaitu sebanyak 17 kasus (62,96%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p= 0,427 (>0,05). Sedangkan variabel tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain) yang mengalami diare sebanyak 10 kasus (37,04%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel tidak diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p=0,541 (>0,05).
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu yaitu sebanyak 17 bayi (80,95%), namun secara statistik proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu tidak berbeda bermakna, dengan nilai p=0,379 (>0,05) dan p=0,333 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci tangan sebelum menyuapi anak yang kena diare sebanyak 26 bayi (96,30%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel cuci tangan secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,557 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu menggunakan sendok saat menyuapi anak yang kena diare sebanyak 24 bayi (88,89). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel selalu menggunakan sendok secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,486 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci bahan makanan sebelum dimasak yang kena diare sebanyak 27 bayi (27%) dan yang tidak diare 73 bayi (73%). Subyek penelitian yang makanan yang sudah dimasak akan segera dimakan selagi hangat yang kena diare sebanyak 15 bayi (55,56%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel makan selagi hangat secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,180 (>0,05).
Subyek penelitian yang makanan yang tidak habis dimakan disimpan dalam lemari es yang kena diare sebanyak 2 bayi (7,41%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel menyimpan makanan di lemari es secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,735 (>0,05).
Subyek penelitian yang masih mendapatkan ASI yang kena diare sebanyak 22 bayi (81,48%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel masih diberi ASI secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,549 (>0,05).
Subyek penelitian yang diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 17 bayi (62,96%) dan yang tidak diare 36 bayi (49,32%) dan subyek penelitian yang tidak diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 10 bayi (37,04%) dan yang tidak diare 37 bayi (50,68%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,225 (>0,05), untuk analisis pemberian susu formula akan dijelaskan lebih lanjut dengan nilai Odds Ratio dan Confidence Interval.
Umur awal pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok umur yaitu mulai <6>6 bulan. Kasus diare pada kelompok pemberian <6> 6 bulan sebanyak 3 kasus (17,05%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel umur awal pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,223 (>0,05).
Dosis pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu <6>6 botol. Kasus diare pada kelompok <6> 6 botol sebanyak 8 kasus (47,06%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel dosis pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,196 (>0,05).
Subyek penelitian yang botol/dot selalu direbus setiap memberi minum pada bayi yang kena diare sebanyak 14 bayi (82,35%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel botol/dot selalu direbus secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,441 (>0,05).
Dari 27 subyek penelitian yang mengalami diare, yang juga mengalami muntah sebanyak 1 bayi (3,70%),sedangkan yang mengalami kembung sebanyak 4 bayi (14,81%).
PEMBAHASAN
Peneliti sudah melakukan spesifikasi umur subyek penelitian yaitu umur 6-12 bulan, hal ini sesuai dengan penelitian Suharti (2000) yang menyatakan bahwa balita penderita diare berdasarkan golongan umur terbanyak adalah pada golongan umur 6-12 bulan. Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata umur 9,18 bulan. Hal ini disebabkan subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok tersebut yaitu bayi yang dibawa ke tempat pelayanan kesehatan untuk diimunisasi campak yang rata-rata berumur 9-10 bulan. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel umur bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata berat badan 8,41 kg. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel berat badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm, sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata panjang badan 70,42 cm. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel panjang badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti proporsi variabel jenis kelamin pada kedua kelompok setara dan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Setyaningsih (2006) yang menyatakan jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1 (95%CI 0,75-1,82).
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa riwayat imunisasi bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare. Imunitas bayi lebih dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing individu, sesuai dengan pernyataan Sunoto (1990) yang menyebutkan bahwa rendahnya daya tahan tubuh mempermudah terjadinya infeksi, jika infeksi terjadi di saluran pencernaan dapat menyebabkan diare.
Kasus diare pada sosial ekonomi baik lebih banyak dibanding kasus diare pada sosial ekonomi kurang. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok sosial ekonomi baik. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial ekonomi keluarga tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. dengan demikian variabel status sosial ekonomi bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Budiarti (2006) yang menyatakan status sosial ekonomi bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1,302 (95%CI 0,092-1,058).
Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada status pendidikan ibu menengah. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti variabel status pendidikan ibu bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Pola pengasuhan berkaitan dengan pola pemberian ASI yang berhubungan dengan kekebalan tubuh. Sesuai pernyataan Kalang (1980), yang dikutip Salam (1987), yang menyebutkan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan perawatan anak pada ibu yang tidak bekerja (di rumah saja). Hal ini berpengaruh pada pola pemberian ASI terdapat anak. Pada ibu yang bekerja biasanya penyapihan lebih dini atau terlalu dini, sehingga hal ini menyebabkan anak menjadi lemah karena kekurangan zat pelindung yang terkandung dalam ASI.
Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak yaitu bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian makanan bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian susu formula tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian susu formula bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Pada analisis lebih lanjut terhadap variabel pemberian susu formula menunjukkan bahwa pemberian susu formula meningkatkan kejadian diare 1,747 kali, namun secara statistik tidak bermakna dengan OR=1,747 (95% CI 0,706-4,323, p>0,05). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan atau pemberian susu formula tidak mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.
KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini antara lain terjadinya recall bias pada riwayat kejadian diare 1 minggu atau 1 bulan terakhir karena data didapatkan melalui wawancara bukan pengamatan secara langsunng oleh peneliti. Kurangnya subyek pada kelompok kasus, hal ini sudah diusahakan untuk dihindari oleh peneliti dengan memperluas tempat penelitian dan definisi operasional waktu kejadian diare. Selain itu penelitian ini juga menggunakan lembar wawancara bukan kuesioner dan tidak dilakukan uji validitas.
KESIMPULAN
Dari hasil analisis penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat dikemukakan adalah :
1. Bagi Peneliti selanjutnya
Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor risiko lain yang belum diteliti secara mendalam dalam penelitian ini dengan populasi penelitian yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih besar.
2. Bagi institusi pelayanan kesehatan
Perlu adanya penyuluhan .yang diberikan oleh tenaga kesehatan tentang cara pencegahan diare seperti menanamkan pola higiene dan sanitasi yang baik dalam keluarga dan penyuluhan tentang pentingnya segera membawa anggota keluarga yang terkena diare ke tenaga kesehatan atau sarana kesehatan, sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian diare.
Langganan:
Komentar (Atom)