Rabu, 14 Januari 2009

Karya Tulis Ilmiah

HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN
DIARE PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS NGAGLIK I DAN II




NASKAH PUBLIKASI




Program Studi Diploma III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Respati

















Disusun Oleh :
VIOLITA SISKA MUTIARA
NIM : 04110098





Kepada
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RESPATI YOGYAKARTA
2007

PENDAHULUAN

Di negara yang sedang berkembang penyebab kematian awal banyak diakibatkan oleh penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi adalah diare (Depkes RI, 2001). Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi banyak masalah kesehatan terutama peningkatan penyakit berbasis lingkungan. Salah satu dari penyakit berbasis lingkungan adalah penyakit diare. (Widjaja, 2003).
Di Indonesia angka kesakitan diare pada semua umur masih mencapai 300 per 1000 penduduk. Angka kematian diare pada semua umur di Indonesia adalah 54 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2001).Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar antara 150-430 per seribu setahunnya (FKUI, 2002).
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga, Departemen Kesehatan RI Tahun 1996, 12% penyebab kematian adalah diare. Disebutkan, akibat diare dari 1000 bayi, 70 bayi meninggal dunia sebelum merayakan hari ulang tahunnya yang pertama. Ditemukan pula bahwa dari tujuh bayi yang dikubur, satu diantaranya meninggal karena diare (Widjaja, 2002).
Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor risiko terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan). Menurut Suparyasa (2002), faktor lain yang berhubungan dengan interaksi antara infeksi dan malnutrisi adalah akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun absolut satu atau lebih zat gizi.
Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Suharyono (1985) menyebutkan bahwa faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan.Sedangkan penelitian Susanto (2004) menyebutkan bahwa pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap keadaan lingkungan, keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kejadian diare
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.
Menurut Suharti (2000), balita penderita diare berdasarkan golongan umur yang banyak adalah golongan umur 6-12 bulan yaitu 40,5% dan umur 13-24 bulan yaitu 29,4%. Menurut Rumbarar (1995), balita usia 8-13 bulan mempunyai risiko yang tinggi terjadinya diare. Diare lebih banyak terjadi pada anak balita laki-laki daripada anak balita perempuan. Anak balita dengan status gizi yang jelek mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi baik. Ibu-ibu yang berpendidikan tinggi anak balitanya mempunyai risiko yang lebih rendah untuk menderita diare daripada ibu-ibu yang berpendidikan rendah. Anak balita yang ibunya bekerja di luar rumah berisiko tinggi untuk terjadinya diare dibanding ibu yang tidak bekerja di luar rumah.
Menurut Budiarti (2006), faktor status gizi, lingkungan, status ekonomi dan pemberian makanan bukan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada anak balita tetapi merupakan faktor protektif. Faktor status ekonomi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada anak balita.
Menurut Setyaningsih (2006) asupan energi, asupan protein dan bentuk makanan belum dapat dikatakan bukan atau sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada anak balita karena nilai Odds Ratio dan faktor tersebut tidak dapat diketahui disebabkan populasi yang terlalu homogen dan bias recall. Umur anak dan jenis kelamin merupakan faktor risiko kejadian diare pada anak balita. Pekerjaan ibu merupakan faktor protektif terhadap kejadian diare pada anak balita. Tingkat pendidikan ibu bukan merupakan faktor protektif terhadap risiko diare pada balita.
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman (2007), angka kematian bayi di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2006 sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup, 66% kematian tersebut dikarenakan diare. Angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Sleman dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 menunjukkan angka yang fluktuatif. Tahun 1997 ada 8 kematian per 1000 kelahiran hidup, 1998 ada 9,92 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 1999 ada 11 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2000 ada 11,25 kematian per 1000 kelahiran hidup, tahun 2001 ada 9,25 kematian per 1000 kelahiran hidup dan tahun 2002 sebanyak 8,01 kematian per 1000 kelahiran hidup.
Menurut profil Puskesmas Ngaglik I tahun 2006, di Puskesmas Ngaglik I tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri atas 26 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 67 kasus. Menurut Laporan Kasus Kesakitan Puskesmas Ngaglik II di Puskesmas Ngaglik II tercatat kejadian diare pada bayi umur 1 bulan sampai kurang dari 1 tahun terdiri dari 41 kasus, kejadian diare pada anak umur 1-4 tahun terdiri dari 115 kasus.

KONSEP TEORITIK
1. Susu formula
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Karakteristik susu formula yaitu tidak seluruh zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi, Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey: casein susu sapi 20:80. Susu formula sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernaan. Perlu diketahui, serangkaian proses produksi di pabrik mengakibatkan enzim-enzim pencernaan tidak berfungsi. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme, yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras. Komposisi zat gizi susu formula selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai), hanya sedikit mengandung imunoglobulin.yang sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak diperlukan oleh tubuh). Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup (Handajani, 2002).

2. Diare
Diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (FKUI, 2002). Menurut Lebenthal (1981), definisi diare secara klinis adalah pasasi yang frekwen dari tinja dengan konsistensi lembek sampai cair. Definisi tersebut sangat subjektif, karena keadaan tinja untuk masing-masing individu sulit disamaratakan.
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Andrianto (1995), dalam terjemahannya mengatakan bahwa diare atau penyakit diare (Diarreheal Disease) berasal dari kata diarroia (bahasa Yunani) yang berarti mengalir terus, yang merupakan suatu keadaan abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu sering. Diare adalah jumlah buang air besar normal dalam sehari bervariasi sesuai dengan diit dan usia. Pada diare tinja mengandung lebih banyak air dibandingkan yang normal, sering disebut mencret. Tinja seperti air diare yang mengandung darah disebut desentri.
Menurut Widjaja (2002), diare adalah buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Menurut Edward (2000), diare mengacu pada konsistensi tinja dan bukan pada frekuensi buang air. Diare adalah tinja yang lunak dan berair sering mengandung lendir dan kadangkala bercak-bercak darah merah, dan kuantitas buang air antara satu sampai dua puluh kali per hari. (Frekuensi dan volume tinja yang lunak menjadi ukuran berat dan tidaknya diare).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare menurut Noerosid (2003), antara lain faktor status gizi, faktor ekonomi dan pola pemberian makanan. Status gizi memberikan gambaran keadaan keseimbangan antara konsumsi dengan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut. Kecukupan gizi akan mempengaruhi ketahanan fisik seseorang untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan tidak mudah terinfeksi oleh berbagai penyakit infeksi seperti diare. Anak balita dengan status gizi tidak baik mempunyai risiko yang lebih tiggi untuk menderita diare daripada anak balita dengan status gizi yang baik (Suwarko, 1995). Penelitian lain mengatakan ada hubungan yang sangat lemah antara diare dengan status gizi meskipun secara stastitik bermakna tetapi hubungannya sangat lemah dengan perbedaan kontingensi 0,0117 (Nainggolan,1993). Faktor ekonomi adalah pendapatan keluarga dihitung dari pendapatan keluarga perkapita dalam waktu satu bulan. Sulitnya menghitung pendapatan riil seseorang, maka pengeluaran keluarga dapat dipakai sebagai salah satu indikator yang dapat menggambarkan keadaan kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor ekonomi mempunyai pengaruh langsung terhadap faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan pada anak yang mudah menderita diare berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk dan tidak adanya penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (Suharyono, 1985). Penelitian lain menyebutkan pendapatan keluarga akan berpengaruh terhadap kejadian diare dimana lingkungan yang tidak baik menjadikan balita mempunyai 2,69 kali lebih lama menderita diare, memiliki risiko 2,25 lebih sering terkena diare dibanding balita dengan lingkungan baik (Susanto, 2004). Menurut Suyanto (2004), terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pola pemberian makanan yang tidak baik dengan kejadian diare. Kejadian diare 1,31 lebih sering terjadi pada anak yang mempunyai pola pemberian makanan yang tidak baik. Menurut penelitian Supardi (2004), pola pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, P>0,05 namun hasil OR 1,17 menunjukkan faktor pola pemberian makanan tidak baik memiliki kemungkinan 1,2 kali lebih besar menderita diare dibandingkan dengan pola pemberian makanan yang baik.

2. Mekanisme kejadian diare yang disebabkan oleh pemberian susu formula
Jika ada anak yang sehabis makan dan minum zat yang mengandung karbohidrat seperti susu formula, bubur, nasi, roti dan lain-lain, kemudian mengalami diare berulang harus diwapadai adanya kemungkinan mengalami intolerance terhadap laktosa. Ia hanya dapat didorong dengan pemberian makanan yang bebas laktosa atau rendah laktosa (Widjaja, 2002).
Faktor-faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987). Harus diperhatikan dalam 24 jam bayi harus diberi minum paling sedikit 150 ml susu per kilogram berat badannya. Misalnya bayi berumur 5 bulan dengan berat badan 6 kilogram, harus menerima susu sebanyak 900 ml dalam 24 jam. Sebaiknya tidak terlalu sering mengganti atau merubah jenis susu karena dapat menyebabkan lambung bayi harus berulang-ulang beradaptasi dengan jenis susu baru, bahkan dapat saja bayi alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan (Widjaja, 2002).

LANDASAN TEORI
Susu bayi dikenal juga dengan sebutan susu formula, karena berasal dari susu sapi yang diformulasi sedemikian rupa sehingga komposisiya mendekati ASI (Muchtadi, 1994). Faktor yang banyak mempengaruhi keberhasilan pemberian susu formula adalah peralatan makanan yang digunakan, cara-cara pembersihan alat, serta cara pemberian susu formula kepada bayi (Winarno, 1987).
Sunoto dkk (1999), mendefinisikan diare sebagai keluarnya tinja lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari.Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mendorong terjadinya diare. Beberapa faktor terjadinya diare pada anak menurut Sunoto (1990) antara lain umur anak, jenis kelamin anak, imunitas anak, status gizi anak, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan ibu serta faktor lain seperti makanan (bentuk makanan).
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis. Salah satu penyebab diare karena faktor malabsorbsi adalah malabsorbsi karbohidrat, yaitu kepekaan terhadap Lactoglobulin dalam susu formula. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat masam, sakit di daerah perut. Bayi dapat alergi terhadap satu jenis susu formula tertentu dan mengalami diare berkepanjangan.

METODE PENELITIAN
1. Sifat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan rancangan case control. Kelompok kasus adalah bayi berumur 6-12 bulan yang menderita diare, sedangkan kelompok kontrol adalah bayi berumur 6-12 bulan yang tidak menderita diare.
2. Populasi dan Sampel
Sampel diambil dari pasien bayi berumur 6-12 bulan yang diperiksakan keluarganya atau berkunjung ke Puskesmas, Posyandu, dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja Puskesmas Ngaglik I dan II. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling (non-probability sampling), sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.

3. Teknik Pengumpulan data
Kejadian diare dan pemberian susu formula melalui wawancara langsung pada keluarga pasien menggunakan lembar wawancara. Data sekunder dari catatan dari catatan medis Puskesmas, buku KIA dan register Posyandu. Data sekunder hanya untuk melengkapi data primer. Bila data sekunder tidak lengkap, sumber data didapat dari data primer melalui wawancara langsung pada keluarga pasien
4. Teknik Analisis Data
Data kejadian diare dan pemberian susu formula, disajikan secara deskriptif menggunakan tabel, data hubungan antar variabel dianalisis dengan menggunakan chi square dan Mantel Haenszel Odds Ratio (MOR). Sedangkan data umur, jenis kelamin, status gizi, status imunisasi bayi, sosial ekonomi, pendidikan, status pekerjaan ibu, cara pengasuhan bayi, dan pemberian makanan pendamping ASI disajikan secara deskriptif mengunakan tabel. Perbedaan karakteristik antara kelompok kasus dan kontrol diuji dengan independent t-test bila skalanya numerik dan chi square untuk skala kategorikal.

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Ditinjau dari pembagian wilayah kerja Puskesmas, maka Puskesmas Ngaglik I di Kecamatan Ngaglik mempunyai wilayah kerja yang terdiri atas 3 desa, yaitu Sinduharjo, Sardonoharjo, dan Minomartani. Tiga desa tersebut dibagi lagi menjadi 42 dusun dan 6 RW Perumnas dengan jumlah penduduk sebesar 42.106 jiwa. Jumlah penduduk di Desa Minomartani adalah 13.455 jiwa, di Desa Sinduharjo 13.413 jiwa, dan di Desa Sardonoharjo sebanyak 15.238 jiwa (Puskesmas Ngaglik I, 2006).
Puskesmas Ngaglik II mempunyai luas wilayah 21,52 km2, yang terdiri atas 3 desa, 46 dusun dengan jumlah penduduk 32.309 orang yang terdiri atas 15.922 (49,28%) penduduk laki-laki, serta 16.387 (50,72%) penduduk wanita. Jumlah KK sebesar 9.356 KK dan 12,82% adalah KK Miskin. Wilayah kerja Puskesmas Ngaglik II meliputi tiga desa yaitu Desa Donoharjo, Sariharjo dan Sukoharjo (Puskesmas Ngaglik II, 2006).

KARAKTERISTIK SUBYEK PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 responden, maka dapat diidentifikasikan mengenai karakteristik subyek penelitian sebagai berikut:
Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan dengan standar deviasi 1,687, sedangkan pada kelompok kontrol 9,18 bulan dan dengan standar deviasi 1,735. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p=0,690 (>0,05).
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg dengan standar deviasi 0,88, sedangkan pada kelompok kontrol 8,41 kg dan dengan standar deviasi 1,22. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p=0,293(>0,05) dan t=-1,053.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm dengan standar deviasi 5,26, sedangkan pada kelompok kontrol 70,42 cm dan dengan standar deviasi 7,28. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p=0,489 (>0,05) dan t=0,694.
Terdapat 27 kasus diare diantaranya terjadi pada bayi dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 bayi (55,56%), sedangkan pada jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 12 bayi (44,44%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,499 (>0,05).
Semua subyek penelitian yaitu 100 bayi (100%) sudah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, BCG dan DPT secara lengkap. Pemberian imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu imunisasi Anti Polio dan Campak. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05.
Status sosial ekonomi keluarga diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu status sosial ekonomi kurang (pendapatan keluarga 0,05)
Status pendidikan ibu diklasifikasikan menjadi 3 kategori yaitu rendah (tidak tamat SD dan tamat SD), menengah (tamat SMP dan SMA) dan tinggi (tamat Diploma dan Strata). Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah yaitu sebanyak 20 kasus (74,07%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p=0,866 (>0,05).
Pola pengasuhan dibedakan menjadi diasuh ibu dan tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain). Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang selalu diasuh oleh ibu yaitu sebanyak 17 kasus (62,96%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p= 0,427 (>0,05). Sedangkan variabel tidak diasuh ibu (oleh pengasuh/anggota keluarga lain) yang mengalami diare sebanyak 10 kasus (37,04%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel tidak diasuh ibu secara statistik tidak berbeda bermakna yaitu dengan nilai p=0,541 (>0,05).
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu yaitu sebanyak 17 bayi (80,95%), namun secara statistik proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu tidak berbeda bermakna, dengan nilai p=0,379 (>0,05) dan p=0,333 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci tangan sebelum menyuapi anak yang kena diare sebanyak 26 bayi (96,30%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel cuci tangan secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,557 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu menggunakan sendok saat menyuapi anak yang kena diare sebanyak 24 bayi (88,89). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel selalu menggunakan sendok secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,486 (>0,05).
Subyek penelitian yang ibunya selalu mencuci bahan makanan sebelum dimasak yang kena diare sebanyak 27 bayi (27%) dan yang tidak diare 73 bayi (73%). Subyek penelitian yang makanan yang sudah dimasak akan segera dimakan selagi hangat yang kena diare sebanyak 15 bayi (55,56%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel makan selagi hangat secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,180 (>0,05).
Subyek penelitian yang makanan yang tidak habis dimakan disimpan dalam lemari es yang kena diare sebanyak 2 bayi (7,41%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel menyimpan makanan di lemari es secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,735 (>0,05).
Subyek penelitian yang masih mendapatkan ASI yang kena diare sebanyak 22 bayi (81,48%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel masih diberi ASI secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,549 (>0,05).
Subyek penelitian yang diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 17 bayi (62,96%) dan yang tidak diare 36 bayi (49,32%) dan subyek penelitian yang tidak diberi minum susu formula yang kena diare sebanyak 10 bayi (37,04%) dan yang tidak diare 37 bayi (50,68%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,225 (>0,05), untuk analisis pemberian susu formula akan dijelaskan lebih lanjut dengan nilai Odds Ratio dan Confidence Interval.
Umur awal pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok umur yaitu mulai <6>6 bulan. Kasus diare pada kelompok pemberian <6> 6 bulan sebanyak 3 kasus (17,05%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel umur awal pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,223 (>0,05).
Dosis pemberian susu formula diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu <6>6 botol. Kasus diare pada kelompok <6> 6 botol sebanyak 8 kasus (47,06%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel dosis pemberian susu formula tidak berbeda bermakna secara statistik dengan nilai p=0,196 (>0,05).
Subyek penelitian yang botol/dot selalu direbus setiap memberi minum pada bayi yang kena diare sebanyak 14 bayi (82,35%). Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel botol/dot selalu direbus secara statistik tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,441 (>0,05).
Dari 27 subyek penelitian yang mengalami diare, yang juga mengalami muntah sebanyak 1 bayi (3,70%),sedangkan yang mengalami kembung sebanyak 4 bayi (14,81%).

PEMBAHASAN
Peneliti sudah melakukan spesifikasi umur subyek penelitian yaitu umur 6-12 bulan, hal ini sesuai dengan penelitian Suharti (2000) yang menyatakan bahwa balita penderita diare berdasarkan golongan umur terbanyak adalah pada golongan umur 6-12 bulan. Rata-rata umur subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 9,33 bulan sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata umur 9,18 bulan. Hal ini disebabkan subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok tersebut yaitu bayi yang dibawa ke tempat pelayanan kesehatan untuk diimunisasi campak yang rata-rata berumur 9-10 bulan. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel umur, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel umur bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata berat badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 8,14 kg sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata berat badan 8,41 kg. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel berat badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel berat badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Rata-rata panjang badan subyek penelitian pada kelompok kasus adalah 71,48 cm, sedangkan pada kelompok kontrol dengan rata-rata panjang badan 70,42 cm. Tidak didapatkan beda rerata dari variabel panjang badan, dengan nilai p>0,05. Ini menunjukkan bahwa variabel panjang badan bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel jenis kelamin tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti proporsi variabel jenis kelamin pada kedua kelompok setara dan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Setyaningsih (2006) yang menyatakan jenis kelamin bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1 (95%CI 0,75-1,82).
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau belum diberikan pada bayi yaitu anti polio dan campak tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini menunjukkan bahwa riwayat imunisasi bukan merupakan faktor yang berpengaruh pada kejadian diare. Imunitas bayi lebih dipengaruhi oleh daya tahan tubuh masing-masing individu, sesuai dengan pernyataan Sunoto (1990) yang menyebutkan bahwa rendahnya daya tahan tubuh mempermudah terjadinya infeksi, jika infeksi terjadi di saluran pencernaan dapat menyebabkan diare.
Kasus diare pada sosial ekonomi baik lebih banyak dibanding kasus diare pada sosial ekonomi kurang. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada kelompok sosial ekonomi baik. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial ekonomi keluarga tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. dengan demikian variabel status sosial ekonomi bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Budiarti (2006) yang menyatakan status sosial ekonomi bukan merupakan faktor risiko untuk terjadinya diare dengan nilai OR 1,302 (95%CI 0,092-1,058).
Kasus diare tertinggi terjadi pada subyek penelitian dengan status pendidikan ibu menengah. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak ada pada status pendidikan ibu menengah. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status sosial pendidikan ibu tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Hal ini berarti variabel status pendidikan ibu bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Status pekerjaan ibu dibedakan menjadi ibu bekerja dan tidak bekerja. Masing-masing kategori dibedakan kembali menurut pola pengasuhan yaitu diasuh ibu dan tidak diasuh ibu, baik ibu bekerja atau tidak. Pola pengasuhan berkaitan dengan pola pemberian ASI yang berhubungan dengan kekebalan tubuh. Sesuai pernyataan Kalang (1980), yang dikutip Salam (1987), yang menyebutkan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh pola pengasuhan dan perawatan anak pada ibu yang tidak bekerja (di rumah saja). Hal ini berpengaruh pada pola pemberian ASI terdapat anak. Pada ibu yang bekerja biasanya penyapihan lebih dini atau terlalu dini, sehingga hal ini menyebabkan anak menjadi lemah karena kekurangan zat pelindung yang terkandung dalam ASI.
Kasus diare tertinggi terjadi pada bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Hal ini disebabkan karena subyek penelitian terbanyak yaitu bayi yang ibunya tidak bekerja dan selalu diasuh ibu. Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan tidak berbeda bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel status pekerjaan ibu dan pola pengasuhan bukan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian makanan tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian makanan bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Proporsi kelompok kasus dan kelompok kontrol pada variabel karakteristik pemberian susu formula tidak bermakna secara statistik, dengan nilai p>0,05. Dengan demikian variabel karakteristik pemberian susu formula bukan merupakan faktor risiko terjadinya diare.
Pada analisis lebih lanjut terhadap variabel pemberian susu formula menunjukkan bahwa pemberian susu formula meningkatkan kejadian diare 1,747 kali, namun secara statistik tidak bermakna dengan OR=1,747 (95% CI 0,706-4,323, p>0,05). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan atau pemberian susu formula tidak mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.

KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini antara lain terjadinya recall bias pada riwayat kejadian diare 1 minggu atau 1 bulan terakhir karena data didapatkan melalui wawancara bukan pengamatan secara langsunng oleh peneliti. Kurangnya subyek pada kelompok kasus, hal ini sudah diusahakan untuk dihindari oleh peneliti dengan memperluas tempat penelitian dan definisi operasional waktu kejadian diare. Selain itu penelitian ini juga menggunakan lembar wawancara bukan kuesioner dan tidak dilakukan uji validitas.

KESIMPULAN
Dari hasil analisis penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi umur 6-12 bulan.

SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka saran yang dapat dikemukakan adalah :
1. Bagi Peneliti selanjutnya
Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai faktor-faktor risiko lain yang belum diteliti secara mendalam dalam penelitian ini dengan populasi penelitian yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih besar.


2. Bagi institusi pelayanan kesehatan
Perlu adanya penyuluhan .yang diberikan oleh tenaga kesehatan tentang cara pencegahan diare seperti menanamkan pola higiene dan sanitasi yang baik dalam keluarga dan penyuluhan tentang pentingnya segera membawa anggota keluarga yang terkena diare ke tenaga kesehatan atau sarana kesehatan, sebagai upaya untuk menurunkan angka kejadian diare.

Tidak ada komentar: